Sifat jahil/bodoh: arti, penyebab dan kerugiannya

Jahiliyah

Secara mudahnya jahil artinya bodoh. jahil dalam tulisan ini adalah sifat yang tidak mau menerima kebenaran dari Al Quran dan Assunnah dalam dirinya menempuh kehidupannya didunia. Dengan pengertian demikian, manusia yang jahil dianggap telah mampu  dalam menjalani kehidupan dan pesoalannya tanpa pedoman Al Quran dan Assunnah tadi.

Sifat jahil manusia telah diungkapkan dalam Al Quran sebagai sifat dasar manusia. Manusia telah diberikan amanat untuk menjadi khalifah dimuka bumi, dan berjanji tidak berlaku khianat kepada Allah, bila melanggar maka berlaku sangsi Allah kepada mereka. Amanat yang maha berat ini  sudah ditawarkan Allah kepada semua ciptaanNya, semua tiada yang sanggup karena kuatir akan menghianatiNya kecuali manusia.

Firman Allah :Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,(Al Ahzab : 72)

Melihat kenyataan yang demikian, memang banyak dijumpai akhirnya bila manusia tidak dapat memegang amanat Allah yang diberikan kepadanya, lantaran dirinya jahil. beberapa hal dibawah ini adalah ciri sifat jahil yang ada pada manusia :

Semaraknya pertikaian dan perselisihan dalam memperebutkan kebutuhan dunia

Manusia dalam setiap zamannya selalu ditandai dengan perjuangan untuk melestarikan hidupnya, mengerahkan upayanya untuk tercukupi kebutuhannya. Padahal rezeki sudah dijamin oleh Allah kepada semua ciptaannya termasuk pada hewan. Semua hewan nyatanya tercukupkan rezekinya, namun tidak untuk manusia, walaupun manusia dikarunia akal sehingga trampil bercocok tanam.

Firman Allah : Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS Hud : 6)

Ketiadaan keyakinan akan jaminan Allah ini akan menjadikan manusia selalu merasa kekurangan,  terlebih bila selalu melihat orang lain dengan pandangan iri dan kedengkian, sehingga muncul persaingan dan perlombaan dalam memperebutkan kekuasaan, harta dan berbagai kehidupan yang dapat lebih dari orang lain. Bila sudah demikian dirinya akan larut dan sibuk dari pagi sampai petang untuk menumpuk hal kebutuhan dan segala hal yang membanggakan dirinya dihadapan manusia lainnya.

Jahil dengan mengangap hidup didunia kekal dan melupakan mati

Manusia bersifat jahil atau bodoh dalam artian kesibukan dengan tiada habis mengejar kedudukan, harta dan keindahan serta kenyamanan hidup  dianggapnya berujung kebahagiaan.  Kesibukan mengejar kebutuhan telah menyebabkan waktunya  dari pagi sampai malam dan tenaga dan pikirannya terkuras untuk mengurus persoalan dunia, sehingga tiada kesempatan menyadari bahwa dirinya akan mati dan harta yang didapat dari semua itu tidak akan dibawanya mati.

Persoalan mati ini dihadapi biasa, kadang sebagai bahan candaan, seakan tidak membawa resiko bagi dirinya. Dirinya dipacu untuk mendapatkan piala dunia sebagai lambang supremasi keunggulan manusia atas kepandaian dan pengetahuan yang dimilikinya. Dirinya dengan itu lantas menjadi subyek, lupa bila semua itu ada yang mengatur dan yang mengaruniakan semuanya itu adalah Allah.

kejahilan akan mendatangkan kerugian

Orang jahil akan menderita kerugian. Bila diperhatikan orang jahil dikala didunia tampak senang, namun sebenarnya dirinya tidaklah dapat menikmatinya, terbukti dengan hati yang tiada puas selalu merasa kurang atas apa yang didapatnya. Dirinya akan terus berpacu memenuhi kebutuhannya sehingga larat dengan pencarian kebutuhan itu yang seakan tiada habis-habisnya. akhirnya mereka lupa bahwa dirinya harus mempertanggung jawabkan perbuatan dan amanat hidup  yang telah diberikan Allah kepadanya.

Kerugian lain adalah hilangnya kesempatan untuk mendapatkan petunjuk yang terang benderang yaitu Al Quran dan Sunnah sehingga menjadikan hidupnya selalu dalam kegelapan dan menghambat dirinya dalam mencapai akhir yang baik (khusnul khotimah). Inilah kerugian yang sangat besar.

Karena itu terbaca bahwa orang jahil dalam menjalankan kehidupannya akan dipenuhi kerisauan, ketidak tenangan, kegalauan serta penasaran sebagai cermin ketidak puasan menerima apa yang didapatnya.  Pedoman hidup yang terang benderang itu digantikan dengan pedoman diri dan dari manusia umumnya.

Sekalipun diakui, manusia pandai membangun suasana dunia yang semakin semarak, penuh keindahan yang membuat manusia lainnya takjub akan hasil ilmu pengetahuan dan teknologi canggih yang katanya dapat memudahkan hidup mereka. Namun sekali lagi batasan bila jauh dari Al Quran dan sunnah tetaplah dimata Allah sebagai manusia yang jahil.

Jahil menjadikan diri tidak berkeyakinan atau hilangnya keimanan kepada Allah

Orang jahil tidak akan mendapatkan jalan lurus atau jalan yang dirahmati Allah dan selamat. Jalan yang ditempuhnya tentu tidak lurus namun bengkok-bengkok yang ditandai dirinya akan selalu terantuk, terpentok, terjerembab hingga terhempas, penuh dengan coba-coba dan selalu bereksperimen, meraba-raba sehingga hidupnya tidak berkeyakinan.

Dalam menjalani hidupnya, karena tiada pedoman yang jelas dan selalu berubah-ubah menjadikan dirinya selalu dalam kegelapan dan dengan itu memudahkan dirinya kemudian tersesat. Tiadanya kepastian akan jalan yang ditujunya, berarti lenyapnya juga keyakinan diri dalam artian untuk berbuat sesuatu menjadi  tidak pernah yakin. Tujuan hidup yang tidak jelas menjadikan fungsi hidupnya juga rancu sehingga selalu risau, bimbang, galau dan penasaran.

Persoalan hidupnya diselesaikan oleh diri dan dengan caranya sendiri sehingga menjadikan dirinya sebagai subyek, bukan sebagai obyek. Cara hidup demikian, karena keterbatasan kemampuan dirinya akan membebaninya sehingga persoalan hidup yang dihadapinya kian berat dan itu menjadikan sebagai siksaan dengan munculnya keluh kesah tiada habisnya dalam menghadapi persoalan hidup.

Begitulah kerugian seseorang yang memiliki sifat jahil yang dapat menjadikan diri musyrik. Baru hilang jahil manusia, bila telah mendapat pertolongan Allah dengan diberinya karunia berupa kekuatan untuk mempelajari ilmuNya untuk mendapatkan jalan yang lurusdan akhir yang baik kelak. Jahil dengan mengingkari jalan lurus sudah diungkapkan dalam ayat Al Quran surat alkahfi : 1 dan 2.

Firman Allah : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya;sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik,(Al Kahfi 1 dan 2)

(Disarikan dari kitab Maghfirotul Qulub 2)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s