Kemulian Ahlaq dari seorang Istri Hamka

Hamka_Siti-Raham

Saya sangat mengagumi Hamka, bukan saja karena masih satu daerah, namun banyak sisi hidupnya yang dapat menjadi teladan. Selain melihat sisi teladan beliau ada baiknya juga melihat sisi atau sosok istri beliau yang kerap dipanggil Ummi .

Ahlaq Buya Hamka, tercermin juga dalam diri dan ahlaq Ummi sebagai wanita yang pandai bermasyarakat, seorang istri dan sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Ada dua kisah yang menarik dari Ummi ini sebagai berikut :

Kisah 1

Dari kecil anak Buya Hamka yang bungsu bernama Syaqib, tidak mendapat ASI lagi, sebagai gantinya Ummi berlangganan susu segar yang diantara setiap sore oleh tukang susu.

Pada suatu hari di bulan puasa, biasanya susu diantar pukul 4, hingga pukul 5 belumlah datang. Padahal jam segitu sibungsu sudah harus minum susu. Menjelang maghrib, mendekati waktu berbuka, tukang susu itu datang. Ummi bergegas mendatanginya. Kala hendak memarahi karena terlambat, berkumandang azan maghrib.

“Maaf bu, saya dapat halangan dijalan, mohon izin saya batalkan dulu puasa saya kata tukang susu. Kemudian ia mengambil botol minumannya dan segera meminumnya. Kata Ummi : “Puasa bang?”. “Iya bu alhamdulillah saya belum pernah batal”, jawab tukang susu.

“Kalau begitu, masuk saja kedalam, kita berbuka bersama-sama dengan bapak dan anak-anak saya”, ajak Ummi ramah. Si tukang susu gugup mendengar tawaran Ummi. “Terimakasih bu, saya sudah membatalkan puasa, sekarang saya mau ke mesjid dulu. kata tukang susu.

Ummi melanjutkan tawarannya: “Kalau abang tidak mau masuk makan dengan kami, abang makan saja di luar biar saya bawakan ke teras”. Kemudian Ummi masuk dan menyuruh pembentu rumah menyiapkan makanan untuknya.

Berselang kemudian terdengar tukang susu berkata di luar: “Ibu, semuanya terima kasih saya telah berbuka puasa dan dapat makan disini. Saya belum pernah menemui orang sebaik ibu” Lanjutnya, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada Ibu sekeluarga. Izinkanlah saya mencari mesjid untuk shalat, sekali lagi terima kasih ibu”. Tukang susu itu kemudian melangkah keluar dan pergi

Kisah 2

ketika hari sudah senja, Ummi baru saja selesai menyiram bunga, dikala sedang asyiknya datanglah tukang pisang menyapa Ummi dari luar pagar. “Permisi, ibu. Ini tolong beli pisang saya dari pagi belum ada yang laku, sedang saya masih puasa”. kata tukang pisang.

Ummi menghampiri. “Pisang apa bang?”. “Ini pisang ambon, tolong dibeli ya Ibu, supaya saya bisa buka puasa sekalian itu buat ongkos saya pulang kekampung”. Tukang pisang menjelaskan.

“Wah pisangnya sudah layu dan banyak kulitnya sudah terbuka”, kata Ummi. Tolonglah Ibu, saya jual dua sisir 10 ribu, apalagi kalau diborong semua. kata si tukang pisang”.

Ummi tersenyum mendengar tawaran si tukang pisang. Baru saja umi mau mengatakan harga pisang itu mahal, terdengar azan maghrib. Si Tukang pisang agak kebingungan waktu maghrib telah tiba sementara dagangannya belum laku.

“Abang masih puasa ?” kata Umi. “Walaupun lemas saya tetap puasa bu, jawab si tukang pisang.” Mari masuk bang, bawa dagangannya kedalam. Umi menawrakan. Mendengar tawaran Umi si tukang pisang agak sedikit ceria.

“Abang batalkan dulu puasanya, lalu kita makan bersama-sama didalam,” kata Umi. “Aduh ibu saya minta air teh saja, jangan diajak masuk, pinta situkang pisang. Ummi lantas memanggil pembantu kami. “Kasih bapak ini minum, bawa sekalian kolak pisangnya, jangan lupa buatkan kopi juga”, Umi meminta pembantunya menyiapkan hidangan buka puasa kepada tukang pisang.

Situkang pisang lalu duduk diteras depan. Air minum dan kolak pisang dalam sekejab habis. tinggal kopi saja, mungkin memang masih panas. Kemudian pembantu membawakan nasi dengan lauk pauknya.

“Bang ini makan dulu supaya kuat, kata pembantu kami”. Si tukang pisang terkejut mendapat perlakuan yang diluar dugaannya. Kemudian Umi keluar. “Bang saya beli pisang dua sisir saja ya, kalau saya borong semua nanti saya yang jadi tukang pisang”, kata Umi setengah bergurau. Mendengar gurauan itu tukang pisang tersenyum.

Umi bertanya lagi : “Ongkos pulang kekampung memangnya berapa bang?. Dari sini berjalan kaki ke kebayoran lama, lantas naik angkot arah ciputat dan lanjut ke parung.  ongkosnya sekitar 15 ribu, karena harus menggunakan ojek.

Begini bang, pisang dua sisir saya bayar 10 ribu, ini saya tambahin 15 ribu supaya abang bisa bertemu keluarga, kata umi sambil mengeluarkan uang 25 ribu.

Tukang pisang terkejut, agak lama ia terdiam. “Ambilah bang, biar cepat bisa pulang kerumah, kata Umi lagi”. tukang pisang berterima kasih bukan kepalang dan katanya: “Aduh Ibu, saya telah diberi makan minum berbuka puasa, sekarang ibu memberi ongkos pulang. “Ya Allah limpahkan rezeki yang banyak untuk Ibu yang baik ini”. Si tukang pisang mengungkapkan rasa syukur diserta doa buat Umi.

Kedua kisah sederhana dan hal keseharian diatas hanyalah sebagian contoh saja tentang ahlaq Ummi yang sudah banyak diketahui oleh masyarakat di sekitar lingkungan rumah Hamka. Ummi selalu ikhlash setiap berinteraksi dengan orang lain, siapaun mereka.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s