Beberapa makna dan faedah dari Hijrah

hijrah

Pengertian Hijrah

Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan diri dan berpindah tempat. Dengan demikian dalam kata hijrah ada makna pada sesuatu yang ditinggalkan, yaitu suatu tempat yang dinilainya sudah tidak memberikan harapan atau tidak baik untuk terus disana.

Setelah itu menyangkut pengertian tujuan, kemana tujuan dari Hijrah itu. Meninggalkan tempat, apalagi yang begitu dicintai dan mendapatkan tujuan yang tepat dari hijrah itu bukanlah hal yang mudah. Allah menyatakan bahwa tujuan berhijrah itu banyak dan mengemukakan bahwa bumiNya adalah luas sesuai firmannya :

“Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,” (Al Ankabaut 56-58)

Hijrah seseorang atau suatu kaum memiliki alasan dan latar belakang. Hal ini dapat diketahui dari beberapa kisah Nabi, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad Saw dan umatnya dari Mekah ke Madinah, kerena Mekah sudah tidak lagi memberikan keselamatan dan kenyamanan bagi umatnya beribadah. Padahal Mekah adalah kota yang sangat dicintainya dan Allah juga sangat mencintai kota itu.

Kisah Nabi lainnya adalah dalam Kisah Nabi Musa As, saat Bani Israil mendapatkan tekanan dari Fir’aun agar mereka menyembah dirinya bukan Allah. Nabi Musapun akhirnya mengajak umatnya untuk Hijrah keluar dari Mesir ke suatu tempat diseberang laut merah.

Firman Allah : Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Bila itu hijrah karena gangguan Umat Islam beribadah karena perlakukan orang yang Zalim maka ada Hijrah karena terkait bencana, seperti bencana banjir yang memaksa Nabi Nuh AS Hijrah dengan menyiapkan perahu besar untuk menyelamatkan diri dan umatnya keluar dari ancaman banjir besar. Dan banyak lagi kisah Hijrah lainnya.

Hijrah dalam kondisi kekinian

Kondisi untuk berhijrah sesuai tuntunan dalam kisah Nabi banyak dijumpai, di berbagai belahan dunia, umat Islam yang minoritas (tidak selalu harus minoritas dalam mayoritaspun juga terjadi) di beberapa tempat terintimidasi dan kesulitan menjalankan  ibadahnya ditengah penduduk atau pemerintahannya yang zalim dan kufur. Bila harus meninggalkan, kemana mereka hendak pergi atau menjadi tujuan hijrah, ini juga jawaban sulit, karena keterbatasan harta dan kehidupan yang sulit telah menyulitkan mereka untuk dapat merealisasikannya.

Dengan demikian mereka harus menerima keadaan, bertahan dan terus memohon Allah agar perubahan dapat terjadi sehingga mereka dapat mendapatkan kemudahan dalam beribadah kepada Allah. Bila Hijrah tidak bisa dilakukan langkah terbaik adalah sebisa mungkin menghindar dengan beruzlah sebagaimana disampaikan oleh Imam Khusairi : Hakekat Uzlah adalah menghindarkan diri dari sifat sifat tercela yang sedang melanda masyarakat dengan tujuan agar tidak terpengaruh pada perubahan sifat bukan untuk menjauhkan diri dari negeri atau tempat tinggal.

Sementara itu, umat Islam dibelahan lain, mengalami sebaliknya, Umat Islam disini relatif tidak mengalami gangguan dalam beribadah. Pemerintahnya memberikan dukungan penuh masyarakat lainnya tidak ada yang memusuhi mereka. Kehidupan beragama dapat dijalankan dengan aman dan tenang. Bagaimana dengan Indonesia?,

Beruntunglah kemudian umat Islam yang berada di Indonesia, dimana setiap orang beragama dilindungi dan dihormati secara  hukum. Bila demikian apakah perlu untuk berhijrah?

Perintah berhijrah harus tetap dilakukan, sebagai cerminan bahwa kehidupan ini berproses dan prosesnya harus menuju yang lebih baik. Maknanya dapat berubah dari makna yang bersifat tempat atau  fisik adanya,  berubah menjadi non fisik.

Banyak ulama menekankan Hijrah dalam lingkup umat seperti terkait perbaikan hakekat hidup manusia agar dapat menjadi lebih baik (Hijrah Insaniyah). Hijrah terkait transformasi budaya terkait peningkatan peradaban manusia dengan ilmu dan teknologinya dan Hijrah Islamiyah terkait membumikan nilai-nilai Islami kepada manusia dan kesehariannya.

Hijrah dalam lingkup kecil yaitu keadaan diri adalah hijrah dari tubuh dan panca indra untuk menjauhi perbuatan yang dilarang menuju pada perbuatan yang bersifat ketaatan. Hijrah lisan dalam artian berubah dari biasa mengucapkan kata-kata kotor dan tiada berguna, menjadi lebih banyak mengendalikan lisannya dan hanya mengucapkan hal yang bermanfaat seperti banyak berdzikir dan Hijrahnya hati, dimana sebelumnya dipenuhinya hati dengan hal-hal keduniaan, beralih dengan mengosongkannya hanya untuk Allah semata.

Beberapa faedah Hijrah

Faedah- faedah Hijrah secara nyata diungkapkan dalam Al Quran antara lain:

1. Kesalahan dan dosanya akan dihapus,

Firman Allah : ….. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik”.(Ali Imran : 195)

2. Derajatnya akan ditinggikan

Firman Allah : orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (Attaubah : 20).

3. Ridha dari Allah dan kemenangan yang besar

Firman Allah : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar (Attaubah : 100)

4. Tempat kembalinya tiada lain adalah syurga

Firman Allah :  Dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal,mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Attaubah 21-22)

Wallahu a’lam

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s