Setan tidak selalu menjadi mudharat bagi manusia

fire_01

Tidak mudah memahami untaian hikmah yang ada dalam kitab Al Hikam karangan Imam Ibnu Athaillah. Menurut beliau penciptaan setanpun memiliki dimensi kemanfaatan bagi manusia bila dapat menafakurinya lebih lanjut. Sehingga hal itu tidak menjadikan Setan selalu sebagai mudharat (kerugian atau keburukan).

Ibnu Athaillah menguraikan tulisannya sebagai berikut :

Setan adalah makhluk Allah. Ia seperti virus yang membuat manusia menjadi terjangkit penyakit itu menjadi lemah dan menderita. Namun demikian setan tidak dapat mempengaruhi orang-orang sehat yang selalu berhati-hati terhadapnya.

Hanya yang lebih penting, Ia seharusnya selalu dalam kesadaran akan yang maha pengasih, penguasa seluruh Makhluk. Waspadalah terhadap setan. Dan ingatlah yang Maha Pengasih, yang menerangi dimensi-dimensi tinggimu.

Ibnu Athaillah berkata: Jika Engkau tahu setan tidak pernah lupa kepadamu, maka janganlah lupa kepada Allah yang menguasaimu.

Setan dapat menjadi alat Tuhan yang Maha pengasih, jika mengakuinya sebagai musuhmu dan mengambil tindakan pencegahan. Begitu pula sekali engkau menyadari bahwa nafsu-nafsu dan kecenderungan-kecenderungannya, maka mereka tidak akan menjadi tuan ketika engkau jauhi dengan berhijrah menuju cahayaNya.

Ibnu Athaillah berkata: Allah sengaja menjadikan Setan sebagai musuhmu supaya Dia bisa menggiringmu menujuNya, Dan Allah menggerakkan hawa nafsumu agar engkau senantiasa menghadapNya.

Begitulah pandangan ahli hikmah, tiada sesuatupun ciptaan Allah yang sia-sia karena terdapat fungsi dan maksudNya, termasuk penciptaan Setan.  Adanya keburukan dan akibat yang ditimbulkan kepada seseorang karena perbuatan setan adalah merupakan jihad tersendiri agar seseorang dapat menjauhi dan bersegera menuju kebaikan.

Dalam memahami nafsu dan berbagai kecenderungannya, sama halnya dengan setan yang tidak selalu tersimpan mudharat. Nafsu dengan berbagai kecenderungan, terutama yang negatif kerap dumusuhi.

Namun sejatinya menurut Ibnu Athaillah ada hikmah dibalik penciptaan nafsu dalam diri yaitu sebagaimana diungkapkannya:

Kalaulah bukan karena adanya arena nafsu (nafsu dengan berbagai kecenderungannya itu), pasti tidak terjadi perjalanan orang-orang menuju kepada Allah. Pasalnya menjadi tak ada jarak antara engkau dan Allah untuk dilalui, juga tidak ada perintang antara engkau dan Allah untuk diatasi.

Bagaimana bayangan perjalanan seseorang menuju Tuhannya. Hal ini tidak dapat dilakukan selain dengan menjelajahi diri. Dengan begitu seseorang akan tahu makna bagaimana Tuhan telah mewajibkan atas diriNya untuk selalu melimpahkan rahmat, cinta, kasih sayang serta perhatian kepada semua makhlukNya termasuk kepada dirinya.

Dengan demikian sesungguhnya Allah lebih dekat kepada diri dari kedekatan itu sendiri. Melalui keberadaan nafsu dan kecenderungan-kecenderungan itu maka dapat dirasakan bahwa antara diri dan Al Haq adalah berjarak.  Dan itulah perintang yang harus diatasi dalam menuju Allah.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s