Membangun ketaatan : menyendiri atau bergaul

menyendiri

Dalam menjaga ketaatan kepada Allah, Imam Gazali memiliki cara untuk menempuhnya yaitu dengan  menyendiri atau dikenal dengan Uzlah atau dengan bergaul atau Mukhalathah. Keduanya memiliki keutamaan dan kemanfaatan tergantung kondisi dan lingkungan yang dialami oleh seseorang dalam memjaga ketaatan.

Menyendiri atau Uzlah

Kondisi yang paling sering ditemui yang mendasari seseorang menetapkan pilihan Uzlah adalah karena kondisi lingkungan dan prilaku masyarakatnya yang dikuatirkan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjaga ketaatan kepadaNya.

Imam Khusairi : Hakekat Uzlah adalah menghindarkan diri dari sifat sifat tercela yang sedang melanda masyarakat dengan tujuan agar tidak terpengaruh pada perubahan sifat bukan untuk menjauhkan diri dari negeri atau tempat tinggal.

Imam Gazali menyatakan orang yang beruzlah hendaknya telah menyiapkan diri dengan berbagai amalan seperti dzikir kepada Allah dan merasa puas bila amalannya hanya diketahui Allah saja, bukan karena dilihat orang lain, tiada berharap orang mengetahui kezuhudannya dan lain lain.

Semua itu dilakukan karena kuatir menjadikan itu semua sebagai riya’. Dengan beruzlah, diri menjadi tenang beribadah, terhindar dari maksiat dan pandangan orang lain yang dapat membuatnya bangga dan pengaruh orang-orang jahat yang mengajaknya maksiat.

Beberapa Ulama juga sepakat bahwa dalam beruzlah hendaknya memiliki persiapan dengan dipenuhi syarat ilmunya terlebih dahulu barulah menetapkan pilihan itu sebagaimana disampaikan Annakha’i : Pandaikanlah dulu dirimu, kemudian,  bolehlah  kamu mengucilkan diri.

Annakha’i menyampaikan bahwa uzlah tanpa diserta ilmu hanyalah kesia-siaan waktu saja, sebab akan banyak tidur dan diri tetap dalam kebimbangan dan kebingungan semata. Hal ini dapat menipu dan akan menjadi tertawaan bagi setan. Sebab ia mengira dengan beruzlah dirinya adalah termasuk salah satu golongan ahli ibadah yang sungguh-sungguh padahal tidak.

Beberapa ulama menyebut Uzlah dengan pengertian berkhalwat, namun ini berat dilakukan memerlukan kehati-hatian dan ketelitian. Sering terjadi orang yang melakukan khalwat tidaklah mendapatkan apa-apa atau kadang mendapatkan petunjuk ghaib yang tidak jelas asalnya dan bertentangan dengan syaraeat. Karena tidak mengerti diterimalah petunjuk itu. Dari pengertian ini khalwat membutuhkan guru yang disebut mursyid sehingga khalwat dapat bermanfaat.

Beberapa amalan dalam berkahlwat adalah perbanyak dzikir dan membaca al Quran, berpuasa, menjaga shalat malam, muroqobah (meneliti diri dengan memusatkan pikiran hanya kepada Allah)

Uzlah secara individu juga sering dibawa dalam lingkup kelompok, dalam hal untuk menjaga ajaran kelompoknya tetap murni tidak terkontaminasi. Hanya permasalahannya pilihan Uzlah serupa ini kadang menjadikan diri dan kelompoknya menjadi ekslusive dan muncul sikap bahwa diri dan kelompoknya adalah yang paling benar dibanding dengan yang ada diluar kelompoknya.

Bergaul atau Mukhalathah

Membangun ketaatan  dengan cara bergaul juga dianjurkan. Imam Gazali menyampaikan beberapa manfaat dari bergaul yaitu :

  1. terjadi proses saling ajar mengajari dengan sesama. Pergaulan akan membuka kesempatan orang untuk mendapatkan guru yang tepat dalam menimba ilmu. Sebaliknya bila diri yang berilmu juga dapat berkesempatan membagi ilmunya kepada orang lain. Membagi ilmu kepada orang lain pahalanya adalah sangat besar.
  2. Mendapatkan saling manfaat. Dalam bergaul seseorang merasakan bahwa dirinya tidak dapat hidup sendiri, namun butuh bantuan orang lain dikala diri kekurangan. Sebaliknya seseorang dapat memberi kemanfaatan bagi orang lain dengan menafkahkan hartanya kepada orang lain yang membutuhkan, jikalau tidak mampu dapat bersedekah dengan tenaga dan pikirannya kepada sesama.
  3. Mendapatkan nasehat dari perbuatan orang lain dan bersopan santun. Dalam perlakuan baik dan buruk yang diterima orang lain kepada dirinya, tetaplah santun dalam menerimanya dengan mengutamakan kesabaran dan tidak meperturutkan hawa nafsu dalam menghadapinya, Dalam setiap perbuatan orang lain tersimpan nasehat yang diri dapat belajar bila orang itu melakukan kesalahan atau terinspirasi bila orang itu melakukan amal kebaikan.
  4. Saling kawan mengawani. Delam pergaulan seseorang berkesempatan mendapatkan kawan atau diajak untuk berkawan. Memilih kawan ini penting, hendaknya dasar agamalah yang digunakan yaitu yang selalu mengajak kebaikan dan menjadikan ketentraman dihati. Kawan dapat mempengaruhi sifat dan karakter seseorang dengan siapa orang itu  berkawan.  Sabda Nabi Saw : Seseorang itu mengikuti aturan kekasihnya, maka baiklah seseorang itu meneliti siapa orang lain yang akan dijadikan kekasihnya.
  5. Berkesempatan mendapatkan pahala yang banyak. Orang yang bergaul berkesempatan mendapatkan pahala muamalah yang banyak seperti mengunjungi saudaranya yang sakit, bertakziah, berjamaah dan menghadiri undangan atau pertemuan. Kehadirian diri kepada mereka akan menjadi kegembiraan tersendiri bagi sesama muslim.
  6. Membuka amal baik atau pahala bagi orang lain. Dikala diri mendapatkan musibah, dirinya akan membuka diri untuk seseorang menyampaikan simpatinya dan sebaliknya dikala mendapatkan nikmat, orang dapat ikut bergembira dengan karunia yang diperolehnya
  7. Tawadhu dan merendahkan diri. Dalam bergaul prinsip pokok adalah tawadhu tidak menyombongkan diri. Sifat ini sangat disukai Allah, juga manusia. Tidak tinggi hati lebih suka menjawab salam terlebih dahulu daripada menunggu disalami. Suka mengunjungi daripada menunggu dikunjungi dalam menegakkan tali silaturahmi. Dirinya juga sangat gembira bila dikunjungi. Bersikap tawadhu yang demikian tidaklah menjatuhkan harga diri malah sebaliknya meningkatkannya.
  8. Memperoleh pengalaman agama yang cukup. beragama tidaklah hanya teori, namun membutuhkan praktek berupa pengalaman, percobaan dan latihan. Dengan itu akan semakin memperteguh ilmu agamanya dan terhindar dari kebodohan. Kebodohan dapat melenyapkan amalan yang banyak, sebaliknya dengan ilmu, itu semakin suburlah amalannya walau yang dilakukannya itu sedikit. Nabi bersabda : Keutamaan orang berilmu atas orang yang beribadah adalah sebagaimana keutamaanku diatas serendah-rendah orang dari kalangan sahabatku. 

Namun demikian perlu dipahami dalam bergaul, karena resikonya sudah pasti diri tidak dapat menghindari prilaku buruk orang lain dan cara menghadapinya tiada lain adalah dengan bersabar.

Sabda Nabi Saw :  Mukmin yang bergaul dengan banyak orang, lalu dia bersabar terhadap prilaku buruk mereka, lebih utama daripada mukmin yang tidak bergaul dengan banyak orang dan tidak bersabar  terhadap prilaku buruk mereka (HR Bukahri dan Ahmad)

Dari pilihan menyendiri atau bergaul itu,  pilihan manakah yang akan dipilih dalam diri menjaga ketaatan? Semuanya berpulang pada diri sesuai hal yang sudah diuraikan diatas mengenai kemanfaatannya masing-masing.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s