Keutamaan mengambil Rukhsah dan tidak mempersulit diri dalam ibadah

jalan

Allah sesungguhnya tidak menyukai kesukaran melainkan kemudahan bagi seseorang dalam beibadah.  Allah memang menciptakan dunia dan seisinya untuk kemudahan manusia itu sendiri, karena itu dianjurkan seseorang itu memanfaatkannya bukan mempersulitkan dirinya.

Rukhshah : keringanan yang diberikan Allah

Dalam kaitan untuk tidak mempersulit diri ini terkandung perkara mengenai rukhsah. Rukhsah ditilik dari artinya adalah keringanan yaitu keringanan yang diberikan Allah kepada hambaNya terkait satu perkara karena adanya uzur (alasan).

Sebab-sebab rukhsah banyak ragamnya namun dapat digolongkan menjadi 7 hal yaitu karena alasan bermusafir, sakit, karena lupa, kebodohan, kekurangan akal, kesukaran, dan adanya paksaan.

Dengan adanya uzur itu orang yang bepergian dapat mengqasar dan menjamak shalatnya, orang yang sakit dapat bertayamum. Orang yang lupa saat berpuasa makan dan minum juga tidak berdosa karena lupanya itu. Orang yang yang belum mengerti kentut itu batal masih diperkenankan untuk meneruskan shalatnya karena alasan kebodohan.

Begitu juga orang yang sakit sehingga tidak mampu menahan tetesan air seni atau darah bagi wanita untuk dapat meneruskan shalatnya. Uzur lainnya adalah paksaan seseorang yang mengucapkan kalimat kufur karena dipaksa bila tidak itu akan membahayakan jiwanya atau alasan kurang ingatan atau gila, maka ia dibebaskan untuk tidak menjalankan ibadah.

Degan demikian secara hukum rukhsah mampu merubah format ibadah menjadi menggugurkan, mengurangkan, menggantikan, mendahulukan, mengakhirkan, meringankan dan mengubah itu sendiri.

Anjuran tidak mempersulit diri

Sahabat Anas Ra menceritakan bahwa suatu hari Nabi Saw melihat seseorang yang dipapah oleh kedua anaknya dikala menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Saat itu beliau melihat keadaan orang itu dan nabi Saw bertanya: Mengapa dengan orang ini? Dua anak itu serempak berkata: Dia bernazar untuk menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki.

Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya Allah tidak memerlukan orang yang menyiksa dirinya dengan berlaku demikian. Ketika itu juga Nabi Saw memerintahkan kepada orang itu agar naik kendaraan dikala mau menunaikan ibadah haji.

Dalam suatu riwayat yang lain, seseorang yang mengunjungi gurunya yang sudah lama berpisah, dia berjalan beberapa km kerumah gurunya dengan maksud untuk mendapat pahala yang lebih.

Setibanya dirumah gurunya, gurunya lantas bertanya: Kamu datang dengan apa? Anak murid itu berkata: Saya berjalan kaki. Mendengar jawaban muridnya itu lalu gurunya berkata: Dia telah menciptakan kuda, unta dan keledai agar kamu mengendarainya.

Bila dalam perkara ibadah memang demikian  untuk tidak mempersulit diri, maka sudah tentu menjadi demikian atau sama dengan hal yang non ibadah. Sering kita mendengar seseorang yang sayang dan kikir dalam mengeluarkan uang untuk dirinya, bersusah payah dalam mencapai satu tempat ketempat lainnya tidak mau mengelurakan uang untuk naik kendaraan.

Atau orang yang sengaja terus berlapar-lapar dalam rangka mendapatkan kebutuhan yang diinginkannya sehingga dengan itu membuat dirinya sakit. Yakinlah orang itu tidak akan dapat menikmati hidup apalagi mensyukurinya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s