Ritual makan berlebihan di bulan ramadhan

makanan

Puasa sangat erat kaitannya dengan mengekang hawa nafsu, khususnya dalam hal konsumsi terkait makanan dan minuman. Dengan berpuasa seseorang menyadari fungsi dan peran makanan dan minuman dengan sebaik-baiknya dalam menopang hidup seseorang.

Dalam keseharian selama bulan Ramadan di berbagai tempat, muncul istilah berbuka “puasa sampai bodoh” yang menggambarkan bagaimana seseorang menghabiskan waktunya dengan aneka macam  makanan yang tiada hentinya disantap sejak berbuka hingga malam.

Padahal saat berbuka dengan sebutir kurma dan air saja sudah dapat melepaskan seseorang dari dahaga dan lapar dengan tiada perlu berlebih-lebihan dalam mengada-adakan makanan.

Korelasi Puasa dan konsumsi makanan 

Ada pendapat bahwa hidup itu untuk makan dan sebaliknya makan untuk hidup. Namun demikian persoalannya tidak semudah itu ada adab dan sikap seorang mukmin terhadap makanan dan manuman yang akan dikonsumsinya.

Dengan berpuasa seorang akan mengurangi jatah makannya, dengan demikian ada korelasi puasa seseorang dengan kadar konsumsi makanannya yang  akan berkurang. Namun kenyataannya tidaklah demikian, yang terjadi adalah munculnya sifat balas dendam, dengan memindahkan waktu makan siang hari menjadi dilakukan pada malam harinya tiada henti.

Dengan berpuasa seseorang akan menghargai makanan dan minuman dengan menahannya hingga lapar dan menyantapnya menjadi terasa lezat, sesederhanapun makanan akan terasa lezat di lidah. Dengan demikian menjadi absurd bila orang mengada-adakan makanan dengan dalih untuk memanjakan lidah setelah berlapar ria satu hari.

Dengan berpuasa seseorang akan cenderung menyantap makanan sekedarnya, jangan terlalu kenyang atau berlebih-lebihan, Percayalah makanan terlezat itu hanyalah pada piring pertama, dikala makanan itu ditambah pada piring kedua kelezatan akan berkurang dalam menyantapnya.

Tuntunan Nabi Saw yang menyatakan berhentilah sebelum kenyang sangat menunjang bagi seseorang untuk lancar beibadah sehingga dapat memanfaatkan keutaman Ramadhan, daripada perut kenyang yang menyebabkan malas dan ngantuk sehingga mudah tertidur.

Dari ungkapan itu ditangkap makna bahwa dalam berpuasa hendaknya memiliki hakekat mengurangi dan menyajikan konsumsi yang sederhana dan selanjutnya tidak dianjurkan untuk mengada-adakan atau berlebih-lebihan.

Kaitan puasa dan pola konsumsi Umat Islam

Tetapi apa makna puasa yang demikian itu mengena dan diresapi umat Islam  yang sedang berpuasa?

Tidak perlu ada kajian mendalam untuk melihat pola konsumsi makanan dan minuman umat Islam pada tingkat keluarga dan nasional dalam bulan puasa. Sangat jelas konsumsi makanan di bulan puasa adalah luar biasa.

Setiap keluarga berusaha menyajikan aneka makanan yang lain dari biasanya dan cenderung berlebihan. Mediapun gencar menyajikan makanan yang afdol dan baik untuk dikonsumsi orang berpuasa.

Imam Gazali berkata: Janganlah berlebihan makan kala berbuka, sekalipun makanan yang disajikan adalah halal. Sungguh tidak ada wadah yang dibenci Allah lebih dari pada perut yang terisi makanan penuh walau halal.

Sikap yang demikian juga menjadi aneh dikala siang hari dia mampu menahan diri dari kesyahwatannya terhadap makanan, namun kala berbuka dia makan dengan membabi buta. Sudah menjadi tradisi pula bila seseorang suka sekali menyimpan makanan yang beraneka ragam untuk keperluan berbuka di bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, usaha untuk memperlemah semangat setan, hendaklah makanan dikurangi, sebab barang siapa yang antara mata hati dan dadanya itu dijadikan sebagai tempat yang penuh makan, maka jelaslah bahwa ia tertutup dari mencapai alam malakut yang tinggi.

Begitu juga dalam skala nasional, pemerintah habis-habisan menjaga stok telur, daging dan sembako agar tetap stabil di bulan puasa. Dalam beberapa hal berhasil, namun pada umumnya harga cenderung bergerak naik. Daging dan telur menjadi rebutan dan makanan sederhana selain itu tidak banyak diminati dan cenderung ditinggalkan.

Dengan demikian terjadi pola makan pada umat Islam dan efeknya terjadi pada kesehatan. Menjadi tidak mengherankan bila penyakit justru banyak menghampiri umat Islam kala berpuasa, padahal puasa aslinya menjauhkan penyakit. Penyakit banyak terkait dengan dorongan untuk kelezatan dan manisnya makanan seperti gangguan pencernaan dan diabetes. Bila demikian tentu ini ada yang salah dalam seseorang memaknai puasa.

Harusnya setiap keluarga dapat mencanangkan untuk melakukan penghematan dikala berpuasa bukan sebaliknya, sehingga lebih fokus pada memperbanyak ibadah, bukan pada perkara mengada-adakan makanan.

Sebaikya dialihkan pada memperbanyak ibadah

Berlebihan dalam membelanjakan makanan juga sebaiknya dihindari, bukankah lebih baik bila itu disisihkan untuk meperkuat ibadah lainnya seperti bersedekah. Bukankah amalan ibadah yang dilakukan di bulan puasa pahalanya sangat berlipat ganda.

Ibnu Qoyyim dalam kitab Zadul Maad menyatakan : Diantara bimbingan Nabi di bulan Ramdhan adalah dengan memperbanyak ibadah. Rasulullah menjadi lebih dermawan dalam memberikan kebaikan yang dibaratkan laksana angin yang bertiup kencang.

Beliau memperbanyak sedekah, beramal shaleh, membaca Al Quran, shalat, Dzikir dan beritikaf. Beliau lebih mengkhususkan bulan Ramadhan dari bulan-bulan yang lain hingga terkadang beliau habiskan malam dan siang untuk beribadah.

Puasa dengan mengekang makanan dan minuman tidak secara otomatis mengurangi hawa nafsu seseorang yang terlontar dai panca inderanya yaitu pendengaran , penglihataan dan lisannya.

Jabir bin Abdullah berkata : Jika engkau sedang berpuasa maka puasakanlah pula pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari dusta dan perkara yang haram. Janganlah mengganggu tetangga dan bersikaplah tenang jangan engkau jadikan hari puasamu sama dengan hari berbukamu.

Memaknai kembali hakekat Puasa

Sangat jelas bahwa puasa mengajarkan seseorang untuk dapat mengekang hawa nafsunya dan meneliti kembali hakekat makanan dan minuman yang sebenarnya adalah sebagai alat-sarana agar seorang hamba dapat beribadah bukan sebagai tujuan sehingga melenakannya.

Puasa juga tidak dapat dijadikan dalih untuk tidak bersemangat dalam bekerja. Dua perang besar yaitu perang badar dan fathu makah justru terjadi pada bulan Ramadhan.

Bila puasa memiliki makna yang luar biasa, tidak demikian halnya dengan umat Islam. Umat akan semakin terdera dikala mendekati lebaran. Para pedagang dan pengambil kesempatan dengan adanya prilaku konsumsi pangan dan sandang umat Islam menanggok banyak rezeki. Para pedagang seperti kehabisan hari, sangat sibuk sehingga kerap meninggalkan mesjid dan ibadah, sehingga luput dari manfaat  keutamaan Ramadhan.

 Dalam lingkup individu masing-masing, saat pola makanan dan minuman belum beranjak turun, umat islam disibukkan dengan undangan buka bersama, upaya untuk menyiapkan aneka kudapan lebaran, parsel, sandang dan pakaian untuk menyongsong lebaran.

Bagi yang mampu agenda akan lebih banyak lagi dalam menyiapkan perabotan, kendaraan  dan aneka keperluan rumah untuk memberikan kesan positif masyarakat terhadapnya dikala ajang silaturahmi berlangsung saat lebaran.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s