Riya’: arti, bentuk dan cara mengatasinya

riya

Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asyirkul ashghar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan syirik kecil? beliau menjawab : Ariya’

 Riya’ dan jenis-jenisnya

Riya’ adalah sifat yang membangga-banggakan diri dan atribut apapun yang melekat pada diri dalam hal kebaikan dan mengatakan bahwa semua itu dicapainya sebagai hasil dari kemampuan diri, sehingga melupakan bahwa itu semua adalah karunia Allah.

Pembagiannya adalah sebagai berikut.

  1. Riya’ yang bekaitan badan misalnya menunjukkan kekurusan dan kepucatan wajahnya karena ingin dilihat orang dia letih dalam beribadah. Termasuk mmebiarkan bekas sujud diwajahnya.
  2. Riya’ yang berkaitan dengan pakaian ialah dengan mengenakan pakaian tertentu yang menunjukkan keshalehan bagi sekelompok orang dan masyarakat akan menilainya sebagai ulama atau orang alim dengan mengenakan itu.
  3. Riya’ dengan perkataan diantaranya adalah menjadikan perkataannya, nasehatnya untuk tujuan pamer dan berdebat dengan sesamanya.  Pamer dalam hal ini berdzikir supaya terlihat orang, selalu menggenggam tasbih dan menampakkan kemarahan yang berlebihan kepada kemungkaran.
  4. Riya’ dengan perbuatan diantaranya ibadah shalat yang dilakukan sedemikian lama dan khusyuk yang sengaja diperlihatkan kepada orang lain.
  5. Riya’ kepada sesama atau kelompok

Riya’ dalam kategori ini adalah berharap dapat berkumpul dengan orang shaleh agar dikatakan dia setara dengan orang itu dan meminta kunjungan orang shaleh agar dianggap dirinya selalu dilingkungi orang-orang shaleh.

Riya’ di mata Allah

Riya’ merupakan dosa besar, karena Riya’ termasuk perbuatan syirik kecil dan Allah telah memperingatkan bahaya dari berbuat riya’.

Nabi Saw bersabda: Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asyirkul ashghar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan syirik kecil? beliau menjawab : Ariya’

Allah telah memperingatkan bahaya dari berbuat riya’ sesuai firmanNya: Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapus amalmu (Azzumar:65)

Begitupula dalam sabda Nabi Saw;

Allah berfirman : Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selalin Aku bersama Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya (HR Muslim)

Dalam sabda yang lain : Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat.

Cara mengatasi Riya’

1. memahami dan mengakui keagungan Allah

Sesuai Firman Allah: Katakanlah : Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahuinya (Ali Imran: 29)

2. Selalu mengingat kematian

Kematian akan mengingatkan bahwa bekal yang dibawa adalah amal yang ikhlash dilakukan. Riya hanya akan menghapus amal yang akan menjadi bekalnya.

3. Banyak berdoa dan merasa takut akan perbuatan riya’

Riya’ yang paling ditakutkan adalah riya’ yang samar, dalam artian menjadikan perbuatan itu mengarah kepada syirik, meyekutukan Tuhan.

4. Terus memperbanyak mengerjakan amal shaleh

Begitu beratnya melaksanakan amalan secara Ikhlash jangan lantas menjadikan diri menyerah untuk melakukannya. Islam tetap menganjurkan untuk berlomba-lomba dalam beribadah. Dalam hal ini perlu terus memproses diri sehingga mampu menampilkan keikhlasan, walau dimulai dengan amalan yang kecil sekalipun

Perbuatan yang dianggap Riya’ tetapi bukan riya’

Namun demikian janganlah mudah untuk melihat orang karena riya’ ini Karena ada perbuatan riya’ namun tidak diaggap sebagai riya’ sebaga berikut:

1. Pujian manusia untuk seseorang karena perbuatan baiknya

Dari Abu Dzar, dia berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah Saw: Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan kebaikan dan orang-orang memuji padanya? Beliau bersabda: Itu adalah khabar gembira yang segera bagi seorang mukmin (KR Muslim)

2. Giatnya seorang hamba dalam melakukan ibadah

Perbuatan orang yang beribadah ini dapat menginpirasi orang lain untuk mengikutinya baik secara sendiri atau kelompok.

3. Membaguskan dan memperindah pakaian, sandal dan semacamnya

Seorang laki-laki bertanya: Ada seorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus apakah itu termasuk kesombongan? Beliau menjawab : Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia (HR Muslim)

4. Tidak menceritakan dosa-dosanya dan menyembunyikan

5. Seorang hamba yang meraih pujian atau kemasyuran  tanpa harus mengupayakannya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s