Kisah keutamaan puasa pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah

02_zul_hijjah

Abu Yusuf bin Ya’qub bin Yusuf bercerita:

Dahulu aku memliki seorang kawan yang takwa dan wara’, hanya saja dia memperlihatkan dirinya seperti orang fasiq dan penuh dosa dihadapan sesama.

Dia rajin berthawaf di ka’bah selama sepuluh tahun, berpuasa seperti nabi Daud, sehari puasa sehari tidak, sedangkan aku berpuasa terus menerus. Suatu ketika ia berkata kepadaku : Kamu tidak akan mendapat pahala puasamu, karena kebiasaan puasa terus menerus itu.

Ketika ia hendak menyelesaikan puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dari hutan dia menemui aku dan bersama memasuki kota Thurtus dan tinggal disana. Selang beberapa saat kawanku ini meninggal dunia. Akupun segera keluar untuk mencari perlengkapan jenazah seperti kafan dan karena kota ini sangat sepi, aku tidak menemukan  seorangpun yang dapat diminta bantuannya untuk mengurus jenazah kawanku ini.

Disaat aku kembali setelah dapat menemukan keperluan itu, aku menjumpai ramai sekali orang disekitar jenazah yang mendatangi dan menshalatinya. Mereka berkata: Telah meninggal dunia seorang zahid, ahli ibadah dan salah seorang wali Allah.

Saking ramainya akupun juga kesulitan untuk menjumpai jenazah kawanku seraya bergumam: “Maha suci Allah, siapakah orang yang mengabarkan kematian kawanku ini sehingga banyak orang yang datang, menshalatinya dan mengurus jenazahnya?”.

Setelah berusaha akhirnya kau berhasil mendekati jenazah kawanku dan menjumpai tulisan di kain kafannya yang berbunyi: “Ini adalah balasan bagi orang yang mengutamakan keridhoan Allah daripada kesenangan dirinya sendiri, dan senang berjumpa denganKu, maka Akupun senang berjumpa dengannya”

Akupun ikut menshalati dan menguburkannya. Malam harinya kala tertidur aku bermimpi melihat kawanku itu naik kuda berwarna hijau, berpakaian hijau. Disampingnya ada seorang pemuda, dibelakangnya 2 orang kakek, seorang pemuda dan kakek lagi. Aku bertanya kepadanya: Siapakah orang yang mengiringimu?’

Dia menjelaskan, Seorang pemuda itu adalah Nabi Kita, Muhammad Saw, 2 orang kakek adalah Abu Bakar dan Umar, sedangkan yang dibelakangnya adalah Utsman dan Ali dan aku adalah pembawa bendera mereka.

Lantas aku bertanya: Mau kemana mereka?. Jawabnya: Mereka akan menziarahiku. Aku bertanya lagi : Karena atau sebab apa kamu mendapat kemulian serupa ini?

Dia menjawab: Ini disebabkan karena aku lebih mengutamakan keridhoan Allah daripada kesenanganku, terutama dalam melaksanakan puasa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Kemudian aku terbangun dan setelah itu, aku tidak pernah lagi meninggalkan puasa sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah.

Walahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s