Keutamaan memiliki hati yang lapang

Big Lagoon, El Nido, Palawan, Philippines

Dalam kehidupan kadang kita dapat mengamati sikap orang dalam menghadapi masalah. ada orang yang tetap tenang, walau dirundung banyak masalah. Namun sebaliknya ada orang yang tidak tenang bahkan stress kala dirundung masalah, walau itu suatu hal yang kecil.

Kuncinya sebenarnya ada pada dua hal yaitu bagaimana ia menggunakan akalnya dan bagaimana kondisi hatinya dalam menghadapi masalah. Orang yang diberi keimanan oleh Allah akan menggunakan akal dan selalu mengkondisikan agar selalu berhati lapang.

Sebaliknya orang yang tiada beriman bila menghadapi masalah maka akan cenderung akal-akalan dan tidak mengkondisikan untuk menggunakan hatinya dengan kata lain selalu berhati sempit.

Karena itu sangat nampak perbedaan antara orang yang beriman dan tiada beriman dalam menghadapi masalah.  Berikut ini ada kisah mengenai keutamaan memiliki hati yang lapang sebagai berikut:

Di pinggir hutan hiduplah seorang kakek yang telah memutih tambutnya dan jenggot terurai. Walau demikian kakek ini memiliki raut wajah yang cerah,  bersinar dan senantiasa diliputi ketenangan kepada siapa saja yang memandangnya.

Pada suatu hari sang kakek kedatangan seorang pemuda yang sangat kusut wajahnya dan rambut yang tiada terurus dan tercermin pemuda ini dirundung ribuan masalah.

Pemuda kemudian mengucap salam kepada kakek. Kakek lantas menjawab :  “Apa gerangan yang membuatmu datang kemari hai pemuda”.  Pemuda menjawab: “Saya mendengar khabar bila dipinggir hutan ini hidup seorang kakek berilmu dan saya ingin belajar kepadanya”.

Kakek tidak mengiyakan permintaan pemuda, dan segera pergi kedapur mengambil segelas air, lantas dibubuhkannya garam kedalamnya dan meminta pemuda itu meminumnya. Belum sampai seteguk diminum, pemuda itu memuntahkan air berisi garam itu dan berkata: “asin sekali kek saya tak kuasa meneguknya.

Kakek kemudian mengajak pemuda itu ke telaga dekat rumah kakek. Lantas kakek menyuruh pemuda itu meminum air itu dengan sebelumnya  kakek itu menaburkan garam ke permukaan telaga dan mengambil sepotong kayu untuk mengaduknya. Kala pemuda itu meminumnya berkata: “air ini sangat segar. sama sekali tiada bercampur ada rasa garam didalamnya”.

Kemudian kakek menjelaskan perumpamaan itu, bahwa garam itu adalah ibarat masalah atau musibah yang dihadapi seseorang. Masalah yang kecil sekalipun akan terasa pahit bila tidak memiliki hati yang lapang sebagaimana diibaratkan dengan air garam yang berada didalam gelas.

Sebaliknya  masalah seberat apapun tidak akan berarti apa-apa bila memiliki hati yang lapang sebagaimana diibaratkan sebuah telaga walau ditaburi garam sebanyak apapun, namun tidak akan terganggu kesegaran airnya kala diminum.

Mendengar itu pemuda itu paham dan menanyakan kembali kesediaan kakek untuk mengajarinya agar selalu memiliki hati yang lapang, sehingga hal itu terpancar pada cahaya wajahnya seperti raut wajah sang kakek.

Dalam kisah itu penting memiliki keutamaan hati yang lapang. Dalam kisah nabi Saw digambarkan ketenangan hati beliau dalam menghadapi orang yang zalim kepadanya, menghina, memukul dan melempari, namun beliau tetap tenang.

Rasulullah Saw tidak membalasnya dengan perbuata zalim, malah sebaliknya tersenyum dan memaafkan bahkan mendoakan orang yang menzaliminya. Hal ini memberikan gambaran betapa luas hati  Rasulullah Saw  yang tidak dapat diukur,  melebihi samudera sekalipun.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s