Gambaran kesederhanaan rumah Nabi Saw

replika rumah nabi

Disebutkan dalam hadits bahwa kesederhanaan adalah bagian dari iman. Nabi Saw bersabda:

“Dengarkanlah sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan sebagian dari iman.“(HR Abu Dawud)

Dalam kitab Fi Bayt al Rasul karya Dr Nizar Abazhah digambarkan kesederhanaan rumah Nabi Saw sebagai berikut :

Rumah Nabi jauh sekali dari kesan kemewahan.  Bilik tinggal istri beliau berdiri di pinggiran mesjid. Semua ada sembilan, empat diantaranya berfondasi batu bata, sisanya berfondasikan batu gunung yang ditata.

Atapnya yang terbawah terbuat dari lembaran pelepah kurma dengan ujung yang tidak rata dan terjangkau tangan orang yang berdiri dibawahnya. Hasan Al Bashri yang posturnya tinggi, anak dari Khayyarah, budak perempuan Ummu Salamah berkata : “Tanganku dapat menjangkau bilik Nabi “

Setiap rumah ada biliknya, terbuat dari rakitan kayu yang diikat. Beralaskan tanah tanpa diplester atau dikapur. Alas tidurnya tikar kasar yang sempit. Aisyah Ra menuturkan : “Aku tidur di depan Rasulullah dengan dua kaki tepat diarah kiblatnya. Bila mau bersujud, beliau menyentuhku, lalu kutekuk kakiku. Bila beliau berdiri, kuselonjorkan lagi.”

Saat itu rumah belum berlampu. Pintu rumah beliaupun tidak ada belnya. hanya bisa diketuk dengan tangan. Satu hal yang perlu ditegaskan disini. Nabi Saw tidak mendirikan bilik-bilik istrinya kecuali setelah membangun mesjid terlebih dahulu. Awalnya dua bilik, satu untuk Saudah, satu untuk Aisyah. Sisanya didirikan setelah dibutuhkan.

Suatu saat, setiba dari Perang Dumatul Jandal, Nabi mendapati Ummu Salamah telah membangun biliknya dengan batubata. “Apa-apa an ini? tanya beliau. ” Ini kubuat agar aku tidak kelihatan orang, wahai Rasulullah, ” jelas Ummu Salamah.

Lalu Rasulullah Saw bersabda, ” Wahai Ummu Salamah, seburuk buruk harta orang muslim adalah yang dikeluarkan untuk bangunan”

Di bilik-bilik inilah semua istri Nabi tinggal; bilik paling jauh dari segala bentuk aksesoris kemewahan, bahkan paling memprihatinkan. Namun demikian di bilik ini wahyu turun kepada Nabi. Di bilik ini beliau menuntaskan hampir seluruh waktu malamnya dengan beribadah kepada Allah.

Bila merasa lelah, Nabi merebahkan diri diatas tikar daun kurma. tikar kasar yang menorehkan bekas di lambungnya. Bagaimana tak terluka perasaan sahabat yang masuk ke bilik beliau dan melihat bekas torehan tikar di tubuh agungnya?

Suatu kali Abdullah ibn Mas’ud masuk ke bilik Nabi Saw. Melihat kondisi beliau demikian, ia berkata, “Wahai Rasulullah Saw, bagaimana kalau kubuatkan tali geriba untuk alas tidurmu sehingga tubuhmu terlindung dari tikar itu ?

Beliau menjawab : Dunia tidak ada apa-apanya bagiku. Aku dan dunia hanyalah seperti seorang penunggang berteduh di bawah pohon, yang sebentar berlalu meninggalkan pohon itu.”

Pernah suatu ketika Umar membandingkan kehidupan memprihatinkan Rasulullah di kediamannya yang sempit dengan kehidupan hewan piaraan tetangganya yang termasuk aparat negara di zamannya. Umar sedih melihat kandang hewan itu dibangun begitu megah.

Secara lahiriah kehidupan, kehidupan di bilik-bilik itu terlihat begitu keras. Bahkan lebih mendekati kefakiran. Kerasnya kehidupan yang dijalani Nabi Saw tercermin pula pada perabot rumah tangganya yang sederhana dan sangat terbatas. Mungkin hanya ada penggilingan, beberapa bejana dan gelas, Tak ada yang kelihatan mewah, semua perkakas bermutu rendah.

Pola hidup demikian adalah wajar, karena beliau tidak menyukai kekayaan. Doa yang sering beliau panjatkan :

Ya Allah jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekedar mencukupi kebutuhan “

Kesederhanan rumah dan perabotnya serta pola hidup nabi Saw yang juga seadanya terus berlangsung hingga akhir-akhir kehidupan beliau. Padahal seluruh pintu dunia dibuka oleh Allah untuknya, dan harta yang masuk kepadanya begitu meruah. Tetapi jangankan mengubah pola hidup menjadi layaknya seorang pemimpin atau penguasa, mengubah rumahpun, tidak beliau lakukan.

Ketika berhasil menaklukkan Mekah, Nabi tetap dengan pola hidup apa adanya. Ummu Hani,  putri Abu Thalib, ketika berkunjung kepada nabi, melihat dengan mata kepala sendiri beliau mandi, sementara Fatima menabiri beliau dengan selembar baju, padahal, saat itu beliau berada di puncak karisma dan kekuasaan sempurna.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s