Walau miskin namun tiada henti bersyukur

syukur

Alkisah ada seorang yang kaya raya, memiliki tanah yang terbentang amat luasnya. Tetapi dikala melihat ada sebidang tanah kecil berada di tanah miliknya, mulailah hatinya merasa tidak nyaman. Ia ingin agar tanah kecil itu dapat dimilikinya juga walau dengan berbagai cara.

Pemilik tanah adalah seorang tua yang miskin, dia keukeuh tidak mau menjual tanahnya kepadanya, berapapun nominal yang ditawarkannya. Hal itu kemudian membuat kesal dirinya, membuat hatinya mendidih dan geram , walau dia tahu dengan tidak memiliki tanah itu sama sekali tidak mengurangi kekayaannya.

Kekesalan terhadap pak tua itu dipendamnya selama dua tahun hingga suatu waktu saat dia melintas mengawasi tanah orang tua tersebut, terdengar didalamnya suara lirih berucap kalimat Allah yang dibaca dengan khusyuk dan syahdu dari suatu rumah :” Alhamdulillah..Alhamdulillah ya Allah” diucapkan berulang-ulang.

Suara itu keluar dari rumah yang sangat sederhana, berlantai tanah, beratap pelepah daun kurma dan berdinding bambu. Terlihatlah didalamnya seorang tua yang tengah duduk bersimpuh diatas tikar menghadap kilat. Nampak air mata bercucuran sampai membasahi janggutnya kala kalimat syukur diucapkan.

Ucapan hamdalah itu kemudian menggetarkan hatinya, seakan dia menemukan kembali suatu yang hilang dari dirinya akibat terlalu memikirkan harta. Hatinya telah menjadi  gersang hingga  luput berucap syukur padahal Allah selalu memberi kelimpahan harta kepadanya. Tidak terasa meneteslah air matanya, dan menggugah dirinya untuk menemui pak tua itu.

” Assalamualaikum”, ucapnya. Pak tuapun menoleh dan anehnya pak tua itu semakin menangis melihat dirinya dan ia segera tersadar bahwa ada tamu dan segera mengusap air matanya.  Lalu katanya : “Katakan pak, apa yang menyebabkan bapak begitu larut dan nikmat memuji Allah seperti itu? Sayapun yang mendengar juga ikut hanyut merasakan nikmat syukur itu di hati ini.

Pak tua menjawab : “Alhamdulillah saya telah dikarunia rizki yang tiada bertara, dan seakan-akan hal itu tidak cukup ditebus dengan ucapan syukur yang saya ucapkan. Saya bersyukur masih diberi nikmat sebagai muslim, dikarunia nikmat iman sehingga dapat beramal, tidak dijadikan munafik maupun fasiq.

“Saya dapat berpikir dan merenung  sehingga dapat menemukan keagungan dan kebesaran Allah yang terus memberi perlindungan kepada saya. Syukur Tuhan selalu memberi rizki, makan dan minum, menjadikan tubuh kuat untuk beribadah, memiliki tempat berteduh untuk diri ini beristirahat. Tuhan menyediakan pakaian untuk menutup aurat saya.

Dan bahkan dikala ada seorang mengucapkan salam, diri ini semakin harus banyak bersyukur betapa dengan telinga itu saya masih dapat mendengar ucapan salam itu. Dengan telinga saya mendengar suara anak-anak, keluarga saya, mendengar nasehat-nasehat orang lain berisi ayat-ayat Allah, utamanya mengenai seruan kebaikan.

Dan ketika menoleh, saya bersyukur atas karunia mata yang selama ini diri saya dapat menatap orang tua, istri, anak dan kerabat dan dengan itu masih dapat membaca Al Quran. Saya bersyukur masih memiliki hati yag masih bisa merasakan kasih sayang dan nikmatnya iman.

Setelah mendengar itu, semakin tercenganglah orang kaya itu, seakan dia menemukan sesuatu yang lama menghilang dari dirinya. Orang kaya itu kemudian pamit dan pulang.

Sesampainya dirumah dirinya terus merenung, bagaimana bisa seseorang yang yang memiliki harta ala kadarnya tetapi dirinya begitu bahagia menikmati dan menyukuri keadaannya yang ada. Beda dengan dirinya yang berlimpah harta, tetapi hatinya sulit untuk menikmati apalagi menyukurinya.

Baginya pertemuan dengan orang tua memberinya pelajaran mahal dan ia memutuskan untuk memberi orang tua itu rumah yang layak dan lengkap fasilitas didalamnya, termasuk membelanjakan kebutuhan orang itu sehari-harinya.

Namun apa jawaban yang terlontar dari orang tua itu, sungguh diluar dugaannya : Orang tua itu berkata:” Maaf, bukan saya menolaknya, dengan nikmat yang seperti ini saja saya sudah sangat repot untuk mensyukurinya, apa lagi jika mendapatkan yang lebih lagi.”

Mendengar itu semakin lunglailah orang kaya itu, ia terpukul dengan keadaan dirinya seakan merasakan kemiskinan, kerendahan dan kehinaan dirinya dihadapan orang tua itu.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s