Amanah dalam pembelanjaan kotak amal Mesjid

kh kamali

Dana masjid sebagian besar diperoleh dari kotak amal yang diedarkan saat shalat jumat, hari raya, atau pada kesempatan shalat taraweh di bulan Ramadan. Besaran kotak amal dari satu masjid ke masjid lainnya tentu berbeda, begitupula dengan cara pembelanjaan dari kotak amal tersebut.

Dana masjid yang diperoleh dari kotak amal, sejatinya adalah amanah umat dari banyak orang yang menitipkan sebagian rezekinya agar dengan itu pahalanya berlipat ganda untuk mendapatkan redho Allah mendapatkan surgaNya. Tinggi memang harapan umat yang menyisihkan hartanya lewat kotak amal itu.

Karena itu amanah bagi pengelola masjid tentulah besar dalam mempertanggung jawabkan rupiah demi rupiah dari pembelanjaan kotak amal kedalam kegiatan yang betul-betul bermakna sehingga dapat melipatkan gandakan harta yang dititipkan mereka di akhirat.

Berikut ini saya ceritakan kondisi 2 mesjid dalam mengelola kotak amalnya sebagai berikut:

Dalam kesempatan mengikuti shalat hari raya di masjid NH dibilangan  Kebalen di suatu wilayah yang bersisian dengan SCBD Jakarta. Mesjid cukup besar dan ruangan utama sudah berpendingin udara yang membuat sejuk bagi siapa saja yang shalat disana.

Saya sempat mendengarkan rincian pengelola masjid mengumumkan saldo masjid. Dana yang masuk dari kotak amal selama bulan ramadan sekitar 17 jutaan, namun pengeluarannya juga relatif sama, sehingga saldo masjid hanya 100 ribuan saja. Awalnya saya berpikir di masjid yang berada di daerah elit ini memiliki saldo yang berlimpah karena jamaahnya banyak berasal dari kalangan mampu namun nyatanya tidak selalu sejalan dengan anggapan itu.

Kala menjelaskan pengeluaran, ternyata pos pengeluaran banyak untuk berbagai kegiatan masjid, terutama kegiatan bulan Ramadan. Dari sebagian biaya tersebut ternyata banyak untuk membayar penceramah yang rutin mengisi ceramah jumat, kala taraweh dan ba’da subuh yang nilainya cukup besar.

Dalam hal ini saya tidak mempermasalahkan apiknya pengelola masjid melaporkan pemasukan dan pengeluaran yang sudah demikian rinci sehingga semuanya terbagi habis sehingga menyisakan saldo yang sedikit bagi kas masjid.

Lain lagi saat saya bertugas di Atambua, Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur, saya sempat shalat jumat di salah satu masjid kecil dalam lingkungan pondok pesantren Al Muhajirin. Saat pengelola masjid melaporkan kondisi keuangan saya terkejut kalau dana yang terkumpul dari kotak amal saldonya mencapai hampir 300 juta dan mata uang asing mencapai 14.000 dolar. Adanya mata uang asing tidaklah aneh karena masjid ini berada di batas antara Indonesia dan Timor-Leste.

Hal itu menarik perhatian saya untuk menanyakan kepada pengurus Mesjid yang tiada lain adalah pengasuh pesantren itu sendiri Gus Kamali. Memang benar kalau dana masjid sebagian besar diperoleh dari kotak amal dan ada sebagian memang  dari donatur.

Lalu rahasia kenapa dana masjid itu besar adalah karena pengeluaran masjid hanya dipilihkan untuk hal yang sangat perlu seperti untuk kebersihan, biaya daya air dan listrik dan menggaji marbot. Sementara kegiatan masjid yang cukup ramai tidaklah diambil dari kotak amal, namun dibentuk panitia dan panitia itu sendiri yang memikirkan darimana dana kegiatan diperoleh.

Gus Kamali menambahkan bahwa dana kotak amal ini amanahnya berat karena dari banyak orang, sehingga perlu dipertanggungjawabkan hanya untuk kemakmuran masjid. Dana kotal amal yang terkumpul sebagian besar adalah recehan yang sedikit demi sedikit terkumpul sehingga menjadi banyak. Karena sifat itu diperoleh dari orang banyak dan susah juga menghimpunnya, maka tersirat amanat yang besar dalam mempertanggungjawabkannya.

Dikatakan lebih lanjut bahwa dana yang terkumpul banyak tadi Insyaallah untuk membangun masjid. Dengan dana yang terkumpul itu, tentu pihak mesjid sudah tidak perlu repot untuk membuat panitia pembangunan masjid dengan meminta bantuan pemerintah atau mencarikan sumber dana dari luar.

Menurut Gus Kamali, umat yang menitipkan dananya lewat kotak amal tentu lebih rela bila digunakan untuk membangun masjid agar lebih indah dan nyaman untuk dijadikan tempat ibadah, daripada dihabiskan untuk biaya aneka kegiatan.

Dana pembangunan masjid lewat swadaya murni masayarakat sekitar tentu memiliki integritas dan kebanggaan tersendiri dan ada rasa memiliki, daripada masjid yang dibangunkan oleh pihak lain atau di peroleh melalui dana dari luar yang kadang tidak jelas seperti meminta-minta di jalan yang banyak dilakukan beberapa masjid.

Dari uraian sederhana Gus Kamali inilah akhirnya saya paham mengapa masjid kecil dengan komunitas muslim terbatas di Atambua itu mampu mengumpulkan saldo masjid yang menurut saya cukup fantastis. Berbeda dengan pengumuman saldo salah satu masjid di bilangan SCBD di kalangan elit namun hanya memiliki saldo yang hanya ratusan ribu saja, miris.

Demikian perbandingan dari 2 mesjid yang sempat saya kunjungi, tidak dalam kapasitas untuk membanding-bandingkan, namun dalam upaya untuk mendapatkan solusi terbaik bagiamana sebaiknya dana kotak amal ini diperuntukkan.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s