Anak-anak dalam pandangan Muhammad Saw

pendidikan-anak-islam

Sikap Nabi kepada anak-anak adalah sungguh merupakan puncak peradaban dan keadaban manusia. Ini tercermin lewat unjuk kelembutan, cinta dan kasih sayang beliau yang luar biasa besar kepada mereka.

Kepada anak-anak pada umumnya

Setiap kali bertemu anak-anak, pagi ataupun sore, beliau selalu tersenyum ramah dengan raut wajah cerah. Beliau mengucap salam dengan menyapa mereka dengan lembut, bahkan dalam situasi kritis dan gawat sekalipun. Tak ada hal kecil ataupun besar yang menghalangi beliau berbuat demikian.

Selain lemah lembut, Nabi saw suka bercanda dengan anak-anak, yang tiada lain sebagai cara atau bentuk beliau menyampaikan pelajaran. Abdullah Ibn Mushar Al Mazini bercerita: Waktu itu aku disuruh ibu mengantarkan setandan anggur kepada Rasulullah Saw. Kumakan sebagian sebelum buah itu sampai.

Begitu sampai, beliau langsung menjewer telingaku sambil bercanda: “penghianat” Kemudian, dengan penuh cinta dan lemah lembut beliau mengajarkan agar ia menunaikan amanah.

Nabi suka berkelakar lembut dengan anak-anak dan mengusap-ngusap mereka Abdullah Ibn Jaffar bercerita: Aku shalat bersama rasulullah Saw. Kemudian beliau keluar bersama keluarganya, akupun keluar menyertai beliau. Segerombolan anak-anak kecil tia-tiba datang mencegat. Nabi mengusap kedua pipi mereka satu demi satu.

Pada saat memanen buah pertama, beliau berdoa “Ya Allah berkahilah kebun kami, buah-buahan kami, mud kami sha kami berkah demi berkah”. Kemudian diberikannya buah itu kepada anak yang terkecil dari anak-anak yang datang kepada beliau.

Pernah suatu ketika anak-anak masuk kerumah Nabi. Berliau bersama para sahabat sedang menikmati kurma. Beliau menyempatkan menyapa mereka, bahkan mengambil segenggam kurma itu lalu diberikan sambil mengusap-ngusap kepala mereka.

Ketika kaum Muslim diliputi rasa senang menyambut kelahiran Abdullah Ibn Al Zubair, bayi pertama kaum muhajirin di Madinah, Asma binti Abu Bakar, sang ibu, lalu membawanya kepada Nabi. Ditaruhnya bayi itu di kamar, kemudian beliau meminta sebutir kurma, dikunyah lalu disuapkan ke mulut bayi, beliau juga mendoakan dan memohonkan berkah untuknya.

Anak-anak dalam keluarga Nabi Saw

Setiap anak dalam rumah tangga Nabi memiliki kedudukan dan makna penting di sisi beliau. Mereka adalah curahan cinta, kasih sayang dan kelembutan beliau. Lewat didepan mereka, beliau mengucap salam. Pulang dari perjalanan, atau kembali dari bepergian, merekalah yang pertama kali beliau jumpai. Mereka dipeluk, disayang dan ditanya dengan riang.

Sesuai tradisi jahiliyah, orang arab pada umumnya keras dan kasar terhadap anak. Ketika mereka menemui Nabi, melihat beliau mencium putra putrinya atau putra-putri sahabatnya, mereka tercengang heran. Dengan penuh takjub sebagaian dari mereka bertanya, Apakah kamu mencium anak-anakmu ?

“Ya” jawab Nabi Saw. ” Tetapi kami, demi Allah tak pernah mencium sama sekali”. Nabi bersabda: “Inilah kasih sayang yang ditanam Allah dalam hati hamba-hambaNya yang dia kehendaki”. Dan Allah tidak menyayangi hamba-hambaNya kecuali yang pengasih dan penyayang”.

Di hati Nabi, Hasan dan Husain punya kedudukan tersendiri, “Bagiku keduanya adalah kekasih. Saat memberi nama kepada Hasan. Nabi Saw mengajarkan Ali untuk memberi nama yang baik. Jika ada nama yang tidak cocok, biasanya langsung diubah oleh beliau. Menurut beliau, nama harus mencerminkan optimisme.

Kepada Hasan Husein, tak puas-puasnya beliau mengajak bermain dan memanja-majakan kedua anaknya. Pernah suatu kali beliau keluar menemui sahabat sambil membawa serta keduanya, satu dipundak kanan, satu lagi dipundak kiri. Beliau mencium keduanya bergantian. Tiba ditengah tengah mereka, beliau lalu bersabda

” Mencintai keduanya berarti mencintaiku, membenci keduanya berarti membenciku.”

Kecintaan anak dari dari Nabi Saw juga tidak jauh beda terhadap cucu bahkan kepada anak tirinya. Sikap Nabi Saw kepada Usamah cucunya sama dengan sikap beliau kepada Hasan Husain.

Suatu hari beliau pernah memanggil ayah Usamah Zaid putra Muhammad. Ia berkata: Rasulullah pernah mengambilku, lalu mendudukkanku diatas paha beliau dan mendudukan Hasan diatas paha beliau yang lain. Kami dipeluk lalu didoakan.

“Ya Allah sayangilah keduanya, karena aku menyayangi keduanya.”

Rasulullah Saw telah memberikan contoh cemerlang dalam memperlakukan anak-anak tirinya. Tidak sebagaimana bapak pada umumnya yang kurang menyukai anak tirinya. Bagi mereka, Beliau merupakan pengganti ayah mereka. Merekapun bangga dan merasa terhormat bernasab kepada beliau.

Pertama adalah putra putri Khadijah yang empat, terutama Hindun Ibn Abu Halah. Ia bahkan tak lagi menganggap Nabi Saw sebagai ayah tiri. ” Akulah manusia terbaik ayahnya, ibunya, saudaranya dan saudarinya. Ayahku Muhammad, ibuku Khadijah, saudaraku Qasim dan Saudariku Fatimah, siapa yang mempunyai nasab seperti ini?.

Hal yang sama juga dialami oleh anak-anak dari istri lainnya seperti Ummu Habibah dengan seorang anaknya, dan Ummu Salamah dengan membawa 4 orang anaknya.

(diambil dari buku Fi Bayt al Rasul, Nizar Abazhah)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s