3 kecukupan menurut Ibnu Qoyyim

wpid-doa

Ibnu Qoyyim menerangkan ada 3 derajat kecukupan yang membuat seorang ahli ibadah itu disebut kaya sebagai berikut:

1.Derajat pertama

Derajat pertama adalah, kamu bersaksi, menyadari dan mengikrarkan bahwa Alla SWT mengingatmu sebelum kamu mengingat Nya, bahwa Allah SWT mengingatmu diantara makhluk-mahklukNya yang diingat oleh Nya sejak permulaan sebelum kamu ada wujudnya, sebelum ketaatan dan sebelum kamu mengingatNya.

Allah SWT menakdirkan penciptaanmu, rizkimu, amal perbuatanmu, kebaikanNya kepadamu dan nikmatNya kepadamu ketika kamu belum merupakan suatu apa-apa.

Lantas Allah mengingatmu dengan Islam, lalu Dia memberimu taufik kepada Islam dan memilih kamu untuk Islam, bukan pula orang yang dia abaikan dan tidak diberiNya taufik kepada Islam. Allah SWT berfirman:

Dia Allah telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu (Al Hajj: 78)

Lalu Allah SWT menjadikan kamu sebagai orang yang memiliki kompetensi, kelayakan dan kualifikasi untuk sesuatu yang sebelumnya kamu sedikitpun tidak memiliki kompetensi, kelayakan dan kualifikasi untuk sesuatu itu.

Allah SWT lah yang mengingatmu dengan keterjagaan dimana orang lain lalai dan memudahkan kamu melalui jalan pertobatan, diberikan mahabbah kepada Nya dilengkapi pula dengan rasa takut agar kamu memperoleh makrifat kepadaNya.

Maka ketika seorang hamba telah menyaksikan, mengikrarkan dan menyadari bahwa Allah SWT mengingatnya, dan hal itu masuk kedalam hatinya, maka itu akan memalingkannya dari selainNya dan hatinyapun memperoleh kekayaan tinggi yang tidak ada bandingannya.

Sebuah hadist qudsi dari Tuhan beliau Rasulullah bersabda:

Barang siapa mengingatKu dalam dirinya, maka Aku akan mengingat dirinya dalam diriKu, Dan barang siapa yang mengingatku ditengah-tengah makhluk, maka Aku akan mengingatnya ditengah-tengah makhluk yang lebih baik dari mereka.

2. Derajat Kedua

Derjat kedua adalah senantiasa menyadari dan menyaksikan akan keawalan Allah SWT. Kesadaran dan kesaksian ini didunia adalah suluk lebih tinggi dari sebelumnya, kekayaan dengan hal ini lebih sempurna dari kekayaan yang telah disebutkan sebelumnya.

Pendekatan derajat yang kedua ini sudah memasuki tahapan hakikat, sebab ketika Allah SWT telah membuka mata hatinya untuk menyadari dan menyaksikan akan keawalan Allah SWT, sekiranya hanya Dia yang ada dan tiada suatu apapun selainNya,.

Dia adalah Ilah yang haqq yang sempurna nama-nama dan sifat-sifatnya, yang dzat Nya adalah maha kaya tiada butuh selainNya. yang Dzat Nya maha terpuji, yang maha hidup kekal lagi terus menerus mengurusi makhluknya (al Qayyum).

Yang memiliki segala kerajaan dan semua pujian sejak awal dan selamanya. Allah SWT senantiasa dan selalu tersifat dengan sifat-sifat keagungan dan sifat-sifat kesempurnaan.

Kesadaran ini dikuti ubudiyyah, melengkapinya  dengan pemahaman akan ilmuNya, kemudian bertaabud sesuai dengan apa yang menjadi tuntutan kesaksian dan  kesadaran dalam  menjaga pikiran-pikirannya, menjaga apa yang terbersit di benaknya, menjaga keinginan-keinginannya, mejaga laku dan perbuatannya, menjaga ambisinya dan menjaga seluruh anggota tubuhnya.

Hal ini dilakukan karena adanya kesadaran bahwa  gerak dan batinnya yakin kan terlihat jelas olehNya dan tiada suatu apapun dari semua itu yang tersembunyi dariNya.

Maka, barang siapa yang mengaktualisasikan dan mempresentasikan kesadaran ini dengan haknya dari kemakrifatan dan ubbudiyah, maka ia akan menjadi kaya dan berkecukupan dengannya.

3. Derajat ketiga

Derajat ketiga adalah yang tertinggi, yaitu kekayaan dan kecukupan dengan Al Haqq SWT, sehingga tidak butuh lagi kepada selainNya, Derajat ini ditandai dengan keberhasilan menggapai wujudNya.

Dalam derajat ini bukan saja wujud hakikat diperoleh tetapi sudah tersingkapnya ainul yaqin ketika terbit fajar tauhid. Ini adalah proses awalnya. Sedangkan kesempurnaannya adalah ketika terbitnya matahari tauhid. Sehingga ketika itu, halimun atau kabut-kabut wujud yang fana pun pudar digantikan oleh terbitnya matahari wujud yang kekal, sehingga setiap bentuk kabut atau halimun pun pudar dan hilang.

Maka barang siapa yang telah menggapai derajat ini, maka kekayaan itu akan menjadi sumber kesenangan, kebahagian dan kegembiraan bagi dirinya. Hatinya senang dan gembira dengan Allah SWT, serta senang dan gembira berhasil mencapai wujudNya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s