Kisah ketawakalan putri Hatim Al Asham

1689096_205916369772935_791510446_nHatim Al Asham ulama yang banyak memberikan keteladanan tentang kesederhanaan dan ketawakalan menyampaikan suatu kisah.

Hatim suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi menuntut ilmu. Mendengar itu istri dan anak-anaknya keberatan, karena siapa yang akan memberinya makan.

Namun demikian salah satu dari putri beliau justru sebaliknya dengan meyakinkan segera menenangkan semuanya: ” Biarkan ayahanda pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat yang Maha Hidup, Maha Pemberi Rezeki dan tidak pernah Mati.”

Hatimpun pergi, Hari itu berlalu, malam datang menjelang….Mereka mulai lapar, tetapi tidak ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yang telah mendorong kepergian ayah mereka.

Putri Hatim Al Asham yang hafal Al Quran itu kembaliĀ  meyakinkan mereka ” Beliau menyerahkan kita kepada Dzat yang maha hidup, Maha pemberi rezeki dan tidak pernah Mati.”

Dalam suasana seperti itu, pintu rumah mereka diketuk, pintu dibuka, terlihatlah seorang penunggang kuda . Orang ituĀ  bertanya : Adakah air dirumah kalian .?” Penghuni rumah menjawab: Ya kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.”

Air lalu dihidangkan kepada orang itu dan diberikan juga kepada penunggang kuda lainnya sehingga hilang dahaga mereka.

Lalu pemimpin penunggang kuda bertanaya : Rumah siapakah ini?. Penghuni rumah menjawab : Hatim Al Asham. Penunggang kuda terkejut : Hatim Ulama besar kaum muslimin .”

Penunggang kuda itu lantas mengeluarkan kantong berisi uang dan dilemparkan kedalam rumah dan berkata kepada pengikutnya : “Siapa yang mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan.”

Para penunggang kuda lainnya segera melempar kantong-kantong mereka kerumah Hatim Al Asham sehingga terkumpul kantong-kantong yang sangat banyak dirumah itu. Mereka setelah itu pergi.

Melihat itu kini giliran putri Hati Al Asham memandangi ibu dan saudara-saudaranya. Dia telah memberikan pelajaran aqidah yang sangat mahal sambil menangis berkata : “Jika satu pandangan makhluk bisa mencukupi kita, maka bagaimana jika yang memandang kita adalah Al Khaliq”

Belakangan diketahui bahwa penunggang kuda itu adalah Abu Ja’far Al Manshur. Amirul Mukminin.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s