Jangan cepat mengatakan gagal sebelum pekerjaan tuntas dilakukan

cara-membelah-batu-gunung-merapi-alat-tradisional-sederhana-4

Kisah ini inspiratif ini didapat dari ucapan KH Agil Siraj untuk menggambarkan arti nama Mochtar Riady seorang konglomerat pendiri Lippo)

Ada seorang pemuda pemecah batu sedang berusaha memecahkan sebuah batu besar yang ditemuinya di pinggir hutan. Dia belum pernah menemukan batu sebesar itu sebelumnya, karena itu dia sangat penasaran dan ingin sekali bisa memecahkannya.

Mulaihlah dia memukulkan palunya sekuat tenaga kepada batu tersebut. Dengan penuh semangat ia mengeluarkan semua kekuatannya memukul batu tersebut. Sepuluh kali, dua puluh kali dia memukul, belum juga ada tanda-tanda batu itu akan pecah. Keringat telah membasahi baju dan seluruh tubuhnya. Beberapa kali ia harus berhenti sejenak untuk meneguk air yang sudah disiapkannya.

Tujuh puluh kali, delapan puluh kali, belum juga dia berhasil. Akhirnya ketika dia sudah mulai lelah, dia mengambil keputusan untuk memukul batu itu hingga pukulan yang keseratus, lalu dia akan berhenti. Jika setelah pukulan keseratus batu itu belum juga pecah maka ia akan menyerah.

Demikianlah ketika pukulan yang kesembilan puluh sembilan batu itu belum juga pecah, ia berkata pada dirinya sendiri, “Aku akan memukul batu ini sekali lagi, jika ia tidak pecah juga, berarti batu ini memang tidak bisa aku pecahkan.” Lalu dengan mengeluarkan seluruh sisa tenaganya ia memukul batu itu sekeras mungkin, tapi ternyata batu itu tidak pecah juga.

Dengan kecewa dan lunglai ia bermaksud meninggalkan tempat itu, tapi sebelum ia pergi, datanglah seorang kakek yang sudah cukup tua dengan rambut yang sudah putih semuanya mendekati anak muda itu.

“Apa yang kau lakukan anak muda?” Tanya si kakek.

“Saya berusaha memecahkan batu ini kek, saya sudah memukulnya hingga seratus kali, tapi ternyata batu ini memang terlalu keras sehingga tidak pecah juga.” Jawab si anak muda.

“O ya? Kamu sudah memukulnya seratus kali? Wah, saya jadi ikut penasaran, bolehkah saya mencoba memukulnya?” Tanya si kakek sambil memperhatikan dengan seksama batu itu.

“Oh silakan kek, tapi kakek sudah setua ini, apakah kakek masih mampu untuk memecahkannya?” Si anak muda memandangi si kakek dengan agak sangsi sambil menyerahkan palunya. 

Lalu kakek tersebut mulai memukul palu itu. Sekali, dua kali, tiga kali, lalu di pukulan kelima batu itu pecah berantakan. Anak muda pemecah batu itu memandang penuh takjub dan setengah tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ia mengamati tubuh kakek itu, ototnya yang sudah mulai mengerut termakan usia, rambutnya yang semuanya sudah putih, lalu ia memandangi diriny sendiri. Otot-otot lengannya masih kencang, badannya masih gagah, tetapi ia ternyata kalah dari kaket tua tersebut.

“Kek, ilmu apa yang kakek gunakan sehingga kakek bisa memecahkan batu itu hanya dalam lima pukulan? Sedangkan saya sudah memukulnya seratus kali tapi tidak berhasil.” Tanya si anak muda sambil menatap kagum kakek tersebut.

Dengan tersenyum kakek itu menjawab, “Aku tidak punya ilmu apa-apa nak. Aku hanya melanjutkan pekerjaanmu. Jika kamu sendiri melanjutkan memukul batu itu lima kali lagi, maka batu itu pun pasti akan pecah juga. Masalahnya hanyalah kamu terlalu cepat berhenti sebelum berhasil.”

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s