Sejenak bersama Gus Kamali Pengasuh Ponpes Al Muhajirin Atambua

gus-kamali

Dalam kesempatan tugas ke Kupang, saya berkesempatan menjenguk Gus Kamali, Pengasuh pondok pesantren Atambua Belu, Nusa Tenggara Timur, yang terbaring sakit di umurnya yang 68 tahun.

Pondok pesantren asuhan beliau telah  mendapat penghargaan terkait posisinya yang unik di ujung timur wilayah RI, persisnya berada di perbatasan  dan kontribusinya dalam menangani krisis yang terjadi saat berpisahnya Timor Timur menjadi negara baru Timor-Leste. Hampir separuh santrinya adalah anak yatim dari Timor-Leste yang ditampung beliau untuk dapat memenuhi haknya akan pendidikan.

Masih kuat dalam ingatan saya, kala bertugas di KBRI Dili, sering berkunjung ke pesantren di akhir pekan untuk dapat bersilaturahmi sekaligus menimba ilmu agama dengan beliau. Beliau selalu jadi panutan untuk unsur pimpinan baik militer maupun sipil terkait situasi sosial budaya dan hubungan antara umat beragama di Nusa Tenggara Timur yang memang unik.

Penduduk Nusa Tengara Timur penganut toleransi yang tinggi

Secara demografi, pondok pesantren asuhan Gus Kamali berada di wilayah yang mayoritas penduduknya non Muslim. Gus Kamali meyakinkan saya bila Nusa Tenggara Timur adalah wilayah yang memiliki toleransi yang tinggi antara pemeluk umat beragama. Dalam acara keagamaan non Muslim kerap Gus Kamali diundang dalam acara mereka untuk ikut berdoa dan berkontribusi dalam kegiatan sosial budaya dan ikut membantu menangani masalah yang terjadi antar umat beragama.

Toleransi juga terjadi dalam hal tolong menolong antar umat beragama seperti yang diceritakan Gus kamali kala pondok pesantren  yang dengan segala keterbatasannya harus ikut acara MTQ di suatu daerah. Setiap pondok pesantren harus dapat menampilkan kesenian daerah. Kala itu santri santri belum memiliki kemampuan tari dan gereja memahami itu dan kemudian meminjamkan anak-anaknya untuk membantu para santri sehingga pondok pesantren akhirnya dapat menampilkan tariannya dalam MTQ. Penyelenggara MTQ pun tidak tahu kalau diantara penari itu ada anak-anak non muslim.

Dalam mengatasi krisis antara agama, Gus kamali sering diundang untuk memberikan kontribusi terkait krisis di Poso ambon dan Papua melalui praktek nyata yang dilakukannnya di wilayahnya Atambua. Saking seringnya diundang kebeberapa daerah itu, kami menyebutnya kyai langitan. karena seringnya terbang dari satu daerah ke daerah lainnya.

Dari praktek yang demikian seperti dilakukan Gus Kamali, kiranya potret warga Nusa Tenggara Timur yang memiliki Toleransi tinggi tidaklah berlebihan kala Gong Perdamaian yang diresmikan Presiden SBY terletak di kota Kupang.

Panutan bagi Umat Islam berkiprah di wilayah mayoritas non Muslim.

Kehadiran pondok pesantren Al Muhajirin yang memiliki toleransi yang tinggi kepada umat beragama lainnya telah menjadikan sosok Islam mudah diterima dan dapat dengan damai hidup berdampingan di Atambua. Masyarakat Muslim di Atambua dari segi ekonomi relatif lebih baik tingkatannya karena usaha mereka yang gigih dalam berdagang baik makanan dan sandang yang menjadi kebutuhan warga Atambua.

Pondok pesantren dalam perkembangannya juga terus mengalami kemajuan dari awalnya hanya mesjid kini telah memiliki madrasah setingkat ibtidaiyah dan tsanawiyah dengan biaya pendidikan gratis termasuk biaya tinggal santri-santrinya.

Kehadiran sosok Gus Kamali juga menjadi panutan bagi warga Muslim di Atambua, mengobati kerinduan mereka terhadap kampung halaman mereka yang jauh dengan masih ditemukannya acara-acara bernafaskan Islam dalam setiap acara perkawinan, kelahiran, selamatan atau tasyakuran  dengan sholawatan, wirid bersama dan membaca rawi yang diselenggarakann warga Muslim disana.

Dikala mengunjungi beliau di RSU Johanes Kupang, saya sangat sedih melihat beliau terbaring sakit karena harus menjalani beberapa kali kemoterapi dan pembedahan terkait tumor yang tumbuh di bawah mata.  Beliau adalah sosok guru sekaligus orang tua dan beliau hanya minta untuk didoakan dan saya memohon kepada Allah agar beliau dapat diberikan kesembuhan. Amin Y RA

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s