Kisah nikmatnya berbagi 4: Kaya itu kemampuan hati untuk memberi

dapur-emak

Ada kisah pembicaraan seorang ibu dengan anaknya perihal kebiasaan ibunya yang suka masak berlebihan.  Kaya itu kober atau selalu sempat memberi dengan sesama.

“Mbok, kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam aja simbok masaknya selalu lebih. Mbok yao dikurangi, …ben ngiriit..” kataku dg mulut penuh makanan masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar, dan jangan asem jowo. Menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu2 bakar di tungku, simbok menjawab, “Biar az to..””Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya aja..” sahutku.
“apa iya mubazir? Mana buktinya? mana” tanya simbok kalem. Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu. Kalo sudah begitu, ujung2nya pasti aku bakal kalah argumen.

“Lhaa itu?, tiap hari kan simbok bagi2in ke tetangga2 to? Orang2 yg liwat2 mau ke pasar itu juga??” aku ngeyel.
“Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Anak sekolah kok ga bisa  bedakan  sodakoh dan barang kebuang..”
“Sodakoh kok setiap hari?! Kaya orang kaya az, mbooook mbok!” nadaku mulai tinggi.
“Ukuran kaya itu apa?” Tanya simbok itu! “ukuranya lebih lebih selalu punya apa-apa kan …” “Lha aku punya makanan lebih lebih, memang aku kaya, makanya aku biasa ngasih ngasih”. Tangannya yg legam dg kulit yg makin keriput menyeka peluh di pelipisnya.

Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku. Aku terdiam sambil meneruskan makanku, kehilangan selera utk berdebat.

“Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing2, tapi kewajiban kita kurang lebih sama: sebisa mungkin memberi buat lainnya. Kaya itu keluasan hatimu untuk memberi, bukan saoalnya kamu mengumpulkan segala macam harta. Kalo nunggu harta numpuk, pada saat mau memberi karena diliputi  rasa butuh makanya kamu tidak akan pernah ikhlash memberi.

.Simbokmu ini kaya , setiap harinya punya makanan lebih lebih, jadinya bisa memberi dan memang harus memberi. Perkara simbokmu ini ga punya banyak harta  itu bukanlah ukuran. Yang penting kitanya tidak kapiran, bisa makan, hidup dan ibadah. Kamu bisa sekolah jadi orang,  apa gak hebat pemberian Allah itu, mengingat simbok ini orang gak punya dan tidak sekolah.  simbok tersenyum adem.

“Iya, iyaaaa..”
“Kamu mau Tanya kenapa  aku masak banyak setiap harikan ?
“He eh.”
“Begini, nak, dulu nenekmu ngajari aku begini: Mut, kalo masak itu dilebihin, paling tidak dibanyakin kuahnya apa nasinya…eh siapa tau ada tetangga kiri kanan  atau kedatangan tamu dari jauh atau anaknya yang lapar malam-malam kan paling tidak ada nasi sama kuah juga sudah cukup.

.”.. Karena itu , simbokmu ini jadi kebiasaan dari kecil nyediakan kendi didepan rumah untuk orang-orang yang liwat dan masak banyak siapa tahu ada tetatangga yang membutuhkan. Memang niatnya sudah begitu jadi tidak ada yang namanya buang buang makanan. . Paham?”

Aku diam. Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran. Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, trus berlalu masuk kamar.

Ah, simbok. Perempuan yg ngga pernah makan sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari simboknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesamanya dg caranya sendiri. Sementara aku, manusia modern yg bangga belajar kapitalisme dgn segala hitung2an untung rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bhw ada Tuhan yang menjamin

hidup setiap mahluk yg bernyawa. Simbokku benar: sugih itu kemampuan hati utk memberi utk lainnya, bukan soal mengumpulkan utk diri sendiri.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s