Mengenal Shekh Nawawi Al Bantani

nawawi-2

Dalam blog saya ini pengaruh Sheikh Nawawi Al Bantani cukup mendominasi terkait pemikirannya dalam memahami  tasawuf  lebih jauh. Beliau lahir di pada tahun 1230 H atau 1815 M dan wafat di Mekah pada 25 syawal 1340 H atau 1897 M.

Keluarga dan Nasab

Nama asli beliau Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi. Nama beliau menjadi Nawawi al Jawi al Bantani itu lantaran lahir di Banten tepatnya di kampung Tanara, kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, provinsi Banten.

Dari segi nasab, ia masih keturunan Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Melalui jalur ini nasabnya sampai kepada Nabi Muhammad Saw. Ayahnya bernama KH Umar bin Arabi seorang ulama di kampung Tanara dan ibunya adalah Jubaidah. Ia adalah tertua dari 4 bersaudara yakni Ahmad Syahabuddin, Said, Tamim, Abdullah dan dua saudari perempuannya  Syakila dan Syahriya.

Dari sisi rumah tangga, beliau memiliki 2 orang istri yaitu Nasimah dan Hamdanah. Dari Nasimah terlahir 3 putri beliau yaitu Maryam, Nafisah dan Ruqoyah dan dari Hamdanah terlahir seorang putri bernama Zahro. Dari sisi keluarga ini, beliau tidak menyebutkan memiliki anak laki laki.

Cerdas dan rajin menuntut ilmu

Syekh Nawawi kecil sekitar umur 5 tahun sudah nampak kecerdasannya, terutama sifat kritisnya. Ayahnya melihat potensi itu dan pada umur 8 tahun dikirim ke pondok pesantren di jawa. Baberapa guru beliau adalah Kyai Sahal Banten dan Kyai Yusuf Purwakarta dengan ketekunan dalam mencari ilmu itu, beliau sudah mampu mengajarkan ilmunya kepada orang lain ketika menginjak usia 15 tahun.

Pada umur 15 tahun dia memutuskan utk pergi ke tanah suci untuk menimba ilmu.  3 ulama terkemuka yaitu Syekh sayyid Ahmad Nahrawi, Syekh Junaid Al Betawi dan Syekh Ahmad Dimyati di mekah dan 2 ulama lainnya dari Medinah yaitu Shekh Muhammad Khatib As Sambasi dan Syekh Ahmad Zaini Dahlan telahbanyak  mempengaruhi alam pemikirannya yang tertuang dalam ratusan kitab hasil karyanya.

Shekh Nawawi al Bantani tidak begitu lama tinggal di Arab sekitar 3 tahun dan sekembalinya di tanah air di habiskan waktunya untuk berjuang untuk membela tanah air dari kesewenag-wenangan penjajah Belanda. Kala itu beliau dituduhkan berkomplot dengan perjuang di pihak Pangeran Diponegoro melawan Belanda.

Pada tahun 1830 beliau memutuskan kembali ke tanah suci, kali ini beliau tinggal cukup lama sekitar 30 tahun. Di Mekah, beliau menjadi pengajar bidang tauhid, fiqh, tafsir dan tasawuf. Muridnya yang jumlah awalnya puluhan semakin lama semakin banyak dan berasal dari berbagai bangsa.  Beberapa murid beliau adalah KH Hasyim Asyari, KH Asnawi Kudus, Syekh Tubagus Ahmad Bakri As-Sampuri, KH Arsyad Thawil dan banyak ulama besar lainnya.

Shekh Nawawi al Bantani semakin kesohor di Mekah sejak beliau menggantikan Shekh Khatib al Manangkabawi dan beliau dijuluki Sayidul Ulama Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Jumlah karya mencapai tidak kurang 115 kitab. Pengaruhnya yang besar dalam perkembangan keilmuan di pesantren di Indonesia, Ulama Indonesia banyak menyematkan gelar kepada beliau sebagai “Bapak Kitab Kuning Indonesia”.

Syekh Nawawi al Bantani mengabdikan dirinya selama 69 tahun untuk mengajarkan agama Islam. Pemikiran dan ajarannya telah memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi perkembangan Islam di Nusantara. Setelah masa tersebut, beliau wafat pada tanggal 25 syawal 1314 H atau tepatnya 1897 M dimakamkan di pekuburan Ma’la di Mekah bersebelahan dengan makam Asma binti Abu Bakar Ash Shiddik.

Pemikiran Beliau untuk Tasawuf

Salah satu pemikiran beliau terkait pemikirannya mengenai keterkaitan syariat, tarekat dan hakekat.  Semuanya adalah awal bagi seseorang untuk mencapai sufi. Dalam hal ini beliau tidak mempermasalahkan praktek praktek tarekat yang beraneka ragam sepanjang hal itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Kitab tasawuf yang utama adalah Salalim Al Fudhala di mana beliau menjelaskan untuk menguraikan dikotomi antara fiqh dan tasawuf melalui pengertian ilmu lahir dan ilmu batin. Ilmu lahir dapat diperoleh melalui proses berguru (taalum) dan belajar (tadarrus) sehingga mencapai derajat Alim. Sedangkan ilmu batin diperoleh melalui proses dzikir, muraqabah, dan musyahadah sehingga mencapai derajat arif. Seorang ahli ibadah (Abid) hendaknya tidak hanya menjadi alim, dengan ilmu lahir tetapi juga harus arif dengan ilmu batin yang dikuasainya.

Bagi Beliau, tasawuf lebih banyak menitik beratkan pada pembinaan akhlaq atau adab. Penguasaan ilmu lahir semata tanpa diimbangi ilmu batin akan berakibat terjerumus pada kefasiqan, sebaliknya seorang yang cenderung dengan ilmu batin dari ilmu lahir akan menjadikannya Zindiq. Karenanya kedua ilmu ini tidak dapat dipisah tetapi menjadi satu kesatuan.

(Dikutip dari buku Biografi Ulama Nusantara karya Ustadz Rizem Aizid)

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s