Mengenal lebih dekat dengan Syekh Kholil al Bangkalani

kholil-asli

Alhamdulilah saya berkesempatan berziarah setahun lalu ke makam Syekh Muhammad Kholil di bangkalan atau orang sana menyebutnya syakhona Kholil al Bangkalani 

Keluarga dan Nasab

Nama Asli beliau adalah Muhammad Kholil pada tanggal 11 jumadil Akhir 1235 H atau 27 Januari 1820 di kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan Madura, Jawa Timur.

Dari segi nasab, ia masih keturunan wali sanga yang terhubung langsung kepada Nabi Muhammad Saw, baik dari sisi ayah maupun ibunya. Adapun wali sanga yang menjadi dasar keturunannya adalah Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus. Nama Ayahnya adalah  Kyai Abdul Latif dari Bangkalan yang mendidik beliau sejak kecil.

Beliau menikah dengan putri kerabat adipati Bangkalan bernama Nyai Assek pada 30 Rajab 1278H/1861 M) binti Luidrapati. Selain itu tercatat ada 8 istri lainnya, diantaranya : Nyai Ummu Rahma, Nyai Raden Ayu Arbiah, Nyai Kutab, Nyai Raden Ayu Nur Jati, Nyai Mesi, Nyai Mesi.

Dari Nyai Assek terlahir Ahmad, Hotimah dan KH M Hasan. Dari Ummu Rahma terlahir Nyai Rahma, dari Nyai Arbiah yaitu KH Imron, dari Nyai Mesi adalah KH Badawi dan Nyai Asma.

Menuntut ilmu

Dari asuhan ayahnya langsung itu, beliau dikirim ayahnya ke pondok pesantren di Jawa diantaranya  pondok pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.  Beliau belajar disana dan diasuh langsung oleh Kyai Muhammad Nur hingga menginjak usia 30 tahun.

Beliau terus menuntut ilmu, saat itu pilihannya adalah ke pondok pesantren Cangaan, Bangil, Pasuruan lalu pindah ke pondok pesantren Kebon candi dan mendapat bimbingan Kyai Nur Hasan yang masih memiliki tali kekerabatan dengan beliau. Di kebon Candi beliau juga bekerja sebagai buruh batik

Akhir dari pengembaraan dari menuntut ilmu adalah pondok pesantren di Banyuwangi. Di Banyuwangi beliau bekerja di perkebunan kelapa dan upahnya beliau simpan dalam peti. Sementara untuk keperluan hidupnya dia lebih memilih prihatin apa adanya. Keseluruhan upahnya yang tersimpan dalam peti itu kemudian diserahkan kepada kyainya.

Setelah merasa cukup menimba ilmu kemudian beliau memohon izin untuk pergi ke mekah. Sebagai biaya perjalanannya, kyainya  memberikan kembali peti berisi upah beliau itu. Dengan bekal itu beliau berangkat menuju tanah suci untuk menimba ilmu.

Di Mekah beliau bertemu dengan kyai lainnya yaitu Syekh Nawawi al Bantani, Syekh Ahmad Khatib, dan Syekh Akhmat Yasin keduanya yg disebut terakhir adalah dari Sumatera Barat.  Gaya belajar Syekh Kholil termasuk unik dan aneh. Beliau menggunakan bajunya sebagai media menulis pelajaran  pengganti kertas. Bila sudah dihafal dan difahami, maka bajunya lalu dicuci sehingga hilang tulisannya dan selanjutnya dapat dipakai kembali.

Setelah cukup menimba ilmu beliau pulang ke Bangkalan, Dia tinggal bersama kakaknya Nyai Maryam. Dia tidak langsung mengajar ilmunya melainkan menjadi pegawai di Kantor adipati Bangkalan sebagai penjaga.  Dari penjaga itulah kemudian profesinya berubah menjadi guru karena di minta adipati untuk menjadi guru bagi keluarganya.

Mendirikan pesantren

Dari situlah namanya sebagai ulama mulai dikenal dan dihormati. Dan perkawinannya dengan Nyai Assek putri Ludrapati, mertuanya memberikan hadiah sebidang tanah di desa Jangkibuan. Beliau membangun rumah sekaligus pesantren dan sebagai guru pada keluarga Adipati tetap dijalankannya.

Semakin hari pesantren Jangkibuan semakin ramai, muridnya juga berdatangan dari seluruh penjuru tanah air.. Murid beliau daintaranya juga menjadi ulama besar seperti KH Hasyim Asyari (PP Tebu Ireng Jombang), KH Asad Syamsul Arifin(Safiiyah situbondo), KH Wahab Hasbullah (Tambak beras Jombang), KH Bisri Syamsuri (Den anyar Jombang), KH Maksum (Rembang), KH Bisri Mustofa (Rembang), KH Muhammad Siddiq (Siddiqiyah jember).

Sebagai kyai karismatik, beliau tergolong ulama yang tidak banyak memiliki karya yang terdokumentasikan. Karyanya yang berupa kitab belum diketahui umum. Namun demikian ada beberapa kitab yang menjadi peninggalan beliau yaitu Kita As Silah fi Bayanin Nikah, I’anatur Raqibin dan Al Haqibah

Sebagai Mahaguru bagi Ulama Pesantren nusantara

Meskipun tidak memiliki karya yang terdokumentasikan, bukan berarti kontribusi beliau terhadap perkembangan Islam berkurang. Karena hampir semua pengasuh pondok pesantren di tanah air adalah muridnya beliau. Disamping itu beliau adalah pejuang waktu melawan penjajah Belanda

Syekh dikenal sebagai kyai yang banyak memiliki karomah diataranya adalah weruh sak durunge winarah(Tahu sebelum terjadi / mukasyafah), dapat berada di dua tempat pada waktu bersamaan, menyembuhkan orang lumpuh.

Karomah lainnya adalah beliau  belajar dengan Kyai Abu Darin yang kala itu sudah meninggal dunia lewat mimpi, tongkat beliau kala diketukkan dapat mengeluarkan air yang sangat jernih, air yang keluar itu kemudian menjadi kolam sebagai sumber warga untuk minum dan mandi. Kolam itu sampai sekarang masih ada dan untuk air minum sudah dibuat dalam kemasan botol.

Hingga kini nama beliau tetap harum di mata masyarakat teruta masyarakat pesantren di Madura dan Jawa. Ia wafat pada hari kamis 29 Ramadhan 1343 H (1925M) di pemakaman Martajasah Bangkalan.

(Dikutip dari buku Biografi Ulama Nusantara karya Ustadz Rizem Aizid)

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s