Kisah haji 8 : kemudahan badal umrah untuk Ibu

tawaf-di-makkah-terhenti-tanda-kapasitas-berlebih-GkNH0KgjJJ

Seperti yang diceritakan pada kisah haji sebelumnya, setelah mendapatkan pondok, kami secara rutin bolak balik ke mesjidil Haram untuk melaksanakan shalat fardhu .

Untuk menghemat waktu dan tenaga, kami biasa menggabungkan shalat fardhu seperti datang shalat dhuhur sekalian dengan ashar atau datang saat shalat isya untuk sekalian shalat malam dan shubuh. Datang shalat ashar sekalian maghrib dan begitu seterusnya hingga beberapa hari, dengan niat untuk mendapatkan pahala yang sangat besar dapat shalat di Masjidil Haram.

Pada H-3 menjelang besoknya wukuf diarafah. kami diminta untuk banyak istirahat tidak melakukan aktifitas berat untuk persiapan wukuf besoknya pada tanggal 9 Zulhijah. Pada saat itu para pembimbing haji yang mahasiswa yang tidak lagi memiliki pekerjaan untuk mengantar kami, kemudian menawarkan siapa yang minta di badal kan umrah  untuk orang tua atau kerabat dekatnya.

Sayapun ditawari dan teringat kalau ibu saya belum pernah umrah semasa hidupnya, awalnya saya meminta dia membadalkan, namun kemudian saya ingat sudah tentu akan lebih baik bila saya sendiri yang membadalkan umrah ibu saya.

Bada Ashar, berangkatlah saya dan pembimbing haji kelompok saya seorang mahasiwa mesir. Kami pun naik angkutan ke Tanim untuk melakukan Miqat mengenakan pakaian ihram disana sebagai awal melaksanakan umrah.  Dalam perjalanan ke Mesjidil Haram, karena kebiasaan suka melihat-lihat dagangan yang dijajakan, saya tertarik dengan sajadah Turki yang sangat bagus dan kala itu dijual cukup murah dan saya mengambil 3 buah, niatnya untuk oleh oleh jika pulang nanti.

Dengan menenteng bungkusan berisi sajadah dan berpakaian ihram, saya dan pembimbing haji kaget, karena masjidil haram sangatlah penuh dan akan segera dilaksanakan shalat maghrib. wajarlah penuh karena H-3 semua jamaah yang di Madinah sudah merapat seluruhnya di Mekah.  Kamipun sibuk mencari tempat yang luang, namun tidak satupun tersisa akhirnya kami bergerak ke atas dan baru menemukan ruang tersisa di lantai 3, alhamdulilah akhirnya bisa ikut jemaah magrib.

Setelah shalat maghrib, pembimbing haji mengajak untuk segera melakukan tawaf. Dari lantai 3 saya melihat takjub ke arah kabah sebegitu rapat jamaah yang tawaf. Saya bergumam dalam hati bisa tidak untuk thawaf dalam kondisi penuh serupa itu. Pembimbing haji bilang tetap niatkan untuk thawaf, insha allah ada jalan.

Kami pun turun ke lantai 1, kala itu sudah sangat sulit bergerak untuk mendekati orang yang thawaf, apalagi saya membawa bungkusan sajadah yang dibeli. Akhirnya bungkusan itu saya taruh dekat suatu  tiang, biarlah disana kalau memang milik pasti dapat saya temukan kembali.

Dengan perlahan saya memulai thawaf pada lingkaran paling luar terus di bimbing oleh mahasiswa tadi untuk berputar sebanyak 7 kali. Ajaib selama memutar secara bertahap saya bergeser sendirinya ketengah ke lingkaran paling dalam. Saat hitungan ke tujuh posisi saya berada di depan pintu kabah yang dikenal dengan multazam dan sejajar dengan maqam ibrahim di belakangnya.  Lalu terdengar pengumuman dari pihak mesjid bahwa akan dimulai shalat isya.

Pemandangan setelah itu terlihat para asgar dengan sigap mengatur barisan shalat. Pembimbing haji bilang agar saya segera mencari shaf shalat agar tidak diusir asgar, saya sedikit panik karena jujur tidak tahu dimana shafnya. Saat bingung itu,  tiba tiba ada 2 orang tinggi besar yang satu berkulit putih dan berkulit hitam mengapit  untuk duduk bersamanya. Sayapun nurut untuk duduk, ternyata itu shaf yang benar dan pembimbing haji saya malah tidak kebagian sehingga terdepak duduk jauh beberapa shaf dari saya.

Tiba tiba aneh di depan saya muncul tiang microphone yang menandakan bahwa itu tempat imam. Tak berapa lama datang Imam mesjid diikuti dengan beberapa orang berjubah mengiringinya menempati shaf pertama. Shaf saya berada di barisan kedua sejajar dengan kedudukan Imam dan kaki imam itu terlihat jelas.  Saya ikut shalat isya dengan khusyuk dan bersyukur dapat shalat fardhu di posisi itu.

Setelah shalat isya saya memanfaatkan waktu untuk berdoa sebanyak-banyaknya, karena saya sudah paham ditempat yang disebut multazam ini segala doa di ijabah Allah. Saya mendoakan orang tua saya, keluarga dan terutama ibu saya semoga mendapat tempat layak disisinya.

Setelah selesai shalat isya kami kembali pulang dan mendekati suatu tiang dan aneh bungkusan saya masih aman disana dan sayapun pulang. Di jalan pulang saya melihat kembali imam mesjid dan pengiringnya berjalan bergegas keluar di pintu yang sama saya dan mahasiswa itu keluar. Saya lalu tanya kepada mahasiswa: siapa nama  imam itu ?. Mahasiswa itu bilang itu imam Sudais . Masyaallah oh itu orangnya… saya sangat mengagumi beliau karena kemerduan dan tartil bacaannya.

Di perjalanan pulang saya banyak bersyukur kepada Allah atas segala kemudahan yang saya dapatkan karena niat membadalkan umrah ibu saya. Dan itu meyakinkan saya bahwa itu  adalah cerminan betapa besar pengorbanan dan kasih ibu saya dalam membesarkan saya dan saya yakin bahwa balasan ibu  saya adalah di surga.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s