Beberapa perumpamaan terkait hubungan tasawuf dan syariat

Separating yolk and white of the egg above metal bowl

Tasawuf adalah ilmu yang berusaha memadukan 4 tingkatan Islam (syariat, tarekat, hakikat dan makrifat). KH Jamaluddin Kafie pada bukunya berjudul “Tasawuf kontemporer” telah membuatkan kaitan  yang sesuai terhadap 4 tingkatan ilmu itu melalui perumpamaan tasawuf sebagai   tanaman, perjalanan dan telur

Tanaman

Kalau Tasawuf diibaratkan tanaman, maka pohon sebagai syariat. Thariqatnya adalah menyiram, memupuk dan memeliharanya dari benalu dan berbagai macam gangguan, agar menghasilkan buah hakikat. Berhasilnya orang yang menanam tanaman itu dapat mencicipi dan menikmati buah tanamannya tersebut itulah makrifat.

Perjalanan

Orang yang akan atau sedang melakukan perjalanan, ibaratnya sebuah kendaraan. Jalan raya yang harus dilalui merupakan syariat. Thariqat adalah jalan-jalan kecil sebagai jurusan yang akhirnya mengarah kepada terminal hakikat. Dari sinilah kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke tujuan akhir yaitu makrifat.

Telur

Kalau tasawuf disimbolkan berupa sebutir telur, maka kulit luarnya sebagai syariat, putih telurnya thariqat, sedangkan merah telur adalah hakikat dan inti dari merah telur sebagai makrifat.

Tidak ada telur tanpa kulit, sebagaimana tasawuf tanpa syariat. Bahkan kulit telur itu diupayakan jangan sampai retak, apalagi pecah. Jadi harus tetap utuh. Kalau tidak, maka seluruh isi telur itu akan membusuk dan tidak berguna lagi.

 Firman Allah : “Demikianlah Kami telah jadikan kamu berada di atas satu syariat tentang urusan agama ini, maka ikutilah syariat itu, dan janganlah kamu mengikuti kemauan orang-orang yang tidak mengetahui” (Aljatsiyah  : 18)

Imam Syafi’i R.a berkata: “Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.

Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kenikmatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)“.

Imam Malik Ra:, “Dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . Hanya siapa yang memadukan keduanya terjamin benar “.

Wallahu a’lam

(Diambil sebagian dari blog mutiarazuhud.wordpress.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s