bukti2

51eb8f3928abb_51eb8f3929a56 Tawakal itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses, latihan terus menerus sehingga keimanan seseorang dapat menjadi mantap dan tidak tergoyahkan. Untuk melihat terjadinya proses tawakal yang mantap dan tertanam kuat di hati dapat ditelusuri melalui kisah nabi nabi. Diantaranya adalah Nabi Musa As.

Kejadian-kejadian yang dialami Musa As telah memantapkan hatinya untuk selalu bertawakal kepada Allah.  Awalnya Musa As memiliki tawakal yang belum sempurna karena masih memiliki ketakutan dengan berlari saat Allah menyuruhnya melempar tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular.

Firman Allah : dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.(Al Qasas : 31)

Dengan ayat itu. Allah kemudian meyakinkan Musa untuk tidak takut dan berlari terhadap apa yang dilihatnya. Latihan Musa kedua untuk menjadi tawakal kepada Allah adalah kala dihadapkan kepada 30 ribu penyihir yang menantang dirinya untuk beradu kekuatan dengan mereka.

Firman Allah : Berkata Musa: “Silahkan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.Maka Musa merasa takut dalam hatinya.(Taha : 66-67)

Dalam kejadian itu masih terselip rasa takut nabi Musa As menghadapi para ahli sihir. Dari kedua kejadian itu bandingkan posisi tawakal Nabi Musa As disaat menenangkan pengikutnya dari kejaran Firaun. Dalam ayat itu dijelaskan kemantapan hati Nabi Musa As akan datangnya selalu pertolongan Allah baginya yang menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu tawakal.

Firman Allah : Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (As-shuara : 62)

Bila itu Musa As, Lihatlah kisah kemantapan hati Nabi Ibrahim As, dikala diperintahkan Allah  untuk menyembelih anaknya Ismail. Padahal dia tahu, dirinya sangat menyayangi putranya yang lama dinanti-nantikannya. Begitu juga kisah Nabi Yaqub As yang dipisahkan 20 tahun oleh Allah terhadap putra kesayangannya Yusuf As.  Kedua Nabi  itu tetap tawakal dengan keputusan Allah kepada dirinya.

Dari uraian kisah dalam Al Quran itu lihatlah proses tawakal yang terjadi pada nabi-nabi tersebut yang menjadikan mereka menjadi orang yang tawakal. Lalu bagaimana diri untuk dapat dan selalu bertawakal?

Caranya juga sama yaitu terus berserah diri secara total dan menjalani  proses hidup dengan menerima semua kejadian-kejadian sabagai cerminan dari hukum dan qadhaNya atas diri. Dengan demikian jalan bertawakal tidak lain harus memperbanyak mengingat Allah, janganlah berpaling, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah.

Bila hati sudah mantap demikian, keyakinan akan muncul bahwa pertolongan Allah akan selalu datang kepada hambanya yang selalu bertawakal. Nabi Saw bersabda: Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu.

Firman Allah : Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.(Atthalaq:3). 

Wallahu a’lam

Advertisements