lelah lilah

Saat ini banyak kita temukan orang yang mengandalkan kerja keras, sibuk tiada henti tanpa memperhatikan untuk apa dan bagaimana pekerjaan dilakukan. dorongan hanya satu mendapatkan hasil sebanyak banyaknya dan tidak memperhatikan cara dan proses untuk mendapatkannya.

Hasilnya dari itu kebanyakan hanya lelah semata dan bila dipaksakan bukan menjadi produktif malah akan menggerus diri terutama pada daya tahan dan kesehatan yang bersangkutan. Orang seperti ini akan menggantungkan sepenuhnya pada kekuatan dan kebugaran diri dan melupakan bahwa kekuatan dan kesehatan itu adalah pinjaman dari Allah semata.

Bila kita renungkan lagi, samakah orang berusaha dan beramal atas dorongan petunjukNya dengan orang yang berusaha dan beramal atas dorongan diri dan orang lain atau kepentingan lainnya.  Tentu berbeda hal itu di mata Tuhan.

Amal perbuatan yang dilakukan yang didorong karena melaksanakan petunjukNya adalah bernilai amal shaleh, sementara cara berusaha dan beramal karena dorongan diri dan orang lain atau kepentingan lainnya sudah tentu bukan amal shaleh dan tidak bernilai apa-apa di mata Tuhan sebaik apapun perbuatan itu dilakukan.

Ada rumus segitiga terkait hubungan Allah dan ikhtiar.

  • jika orang kebanyakan/umumnya akan mengidola pada iktiar rumusnya adalah  ikhtiar – Allah – ikhtiar yaitu mengawali dengan ikhtiar dan dia meminta langsung agar ikhtiarnya itu membuahkan hasil dan bila berhasil Allah ditinggalkan dan menyebut bahwa itu hasil kerja kerasnya semata dan karena Allah mencintai dirinya.
  • Seorang yang beriman akan menggunakan rumus Allah – ikhtiar – Allah yang mengawali pekerjaan dengan basmalah, lantas bekerja secara tekun ikhlas dan apapun hasilnya diserahkan kepada Allah. Dalam segala sesuatunya orang itu berikhtiar dia selalu yakin Allah bersamanya.

Yakinlah seseorang yang bekerja karena Allah akan tiada tampak kelelahan dalam mengupayakan kebutuhan hidupnya. Dirinya yakin bahwa Allah akan memberikan keberuntungan dan rezeki yang baik bila seseorang berusaha dengan lilah. Sesuai janji Allah dalam firmanNya:

 “Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS Jumuah ayat 10.

Nabi Saw juga memberikan batasan bekerja yang bagaimanakah yang bernilai ibadah dan bagaimanakah ganjarannya sebagai berikut :

Nabi Saw bersabda : “Kalau ada seseorang keluar dari rumahnya untuk bekerja guna membiayai anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha Fisabilillah. Jikalau ia bekerja untuk dirirnya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itupun Fisabilillah. Tetapi apabila ia bekerja untuk pamer atau untuk bermegah-megahan, maka itulah Fisabili Syaithan atau karena mengikutu jalan Syaithan.” (HR. Thabrani)

Rasulullah saw juga mem­berikan kabar gembira kepada siapa pun yang kelelahan dalam mencari rejeki.

“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan mencari rejeki pada siang harinya, maka pada malam itu ia diampuni dosanya oleh Allah swt.”

Dengan demikian seseorang mukmin yang dalam prosesi melakukan ikhtiar, seperti mengawalinya dengan basmalah dan   hauqalah sudah tentu akan memiliki keyakinan bahwa Allahlah yang memberi kekuatan kepadanya dan hasilnya bagaimanapun diserahkan kepada Allah. Kelelahan tidak akan tercermin di wajah dan semuanya terbayar karena sikap Lilah  yang diupayakannya.

Wallahu a’lam

Advertisements