Mengenang almarhum ayahanda kami Zainal Abidin

Zainal Abidin ayahanda kami almarhum bukanlah seorang tokoh pejabat atau orang penting, namun hanya sosok biasa. Namun bagi kami sosok ayahanda adalah luar biasa banyak menginspirasi kami sebagai anak anaknya.

Beliau terlahir di tahun 1934 dari seorang tokoh agama di kampung di bukit tinggi yang memegang teguh adat dan budaya minang kabau. Saya selalu teringat bagaimana tradisi dan adab diterapkan sejak kecil apalagi semenjak kakek hidup bersama kami. Adab dimulai dari hal kecil termasuk tatacara di meja makan dengan aturan yang ketat seperti kala mengunyah tidak boleh bersuara mendahulukan lauk atau sayuran sebelum lauk lainnya atau tidak boleh memegang piring kala duduk bersila.

Saya suka bertengkar dengan ayahanda terkait gaya hidup almarhum. Ayahanda tidak mau memanfaatkan kedudukannya untuk kebutuhan hidup, dia tetap teguh hanya menggunakan uang untuk kebutuhan standar saja tidak mau berlebihan apalagi mewah walau kedudukan ayahanda sangat mungkin kala itu. Ayahanda memang bekerja cukup lama dengan salah seorang terkaya di Indonesia dipercaya hingga 25 tahun membangun perusahaan. Apapun yang diminta ayahanda pasti dikabulkan namun anehnya orang tua hanya meminta sekedarnya.

Jadi walau orang tua memiliki kedudukan tinggi, kami terbiasa hidup biasa saja tidaklah berlebihan. Kesederhanaan ayahanda juga ditunjang dengan kejujuran dan sangat hati hati untuk selalu mengutamakan yang halal. Beliau berbendapat bila uang haram digunakan sendiri inshaallah mudah bagi kita membersihkan, namun akan sulit membersihkan yang haram bila masuk ke keluarga kita. Inilah yang selalu dipegang dan ditanamkan orang tua kami kepada anak anaknya.

Saya juga teringat kala saya bekerja di awal disalah satu kementerian, walau saat itu mudah sekali uang didapat, orang tua saya agak bersedih melihatnya. Dia beranggapan ada yang tidak sesuai dengan uang yang diterima di kantor itu. Akhirnya dia meminta saya untuk pindah ke kementerian lain dan alhamdulilah sampai saat ini saya berada disini. Di kantor baru ini uang didapat adalah sudah sangat jelas dan sesuai.

Setelah saya lulus kuliah dan bekerja orang tua meninggalkan kedudukanya yang sudah enak untuk tinggal dirumah saja. Awalnya saya bingung dengan keputusan ini. namun kemudian saya sadar saat ada krisis tahun 1998 perusahaan ayahanda yang sangat erat dengan kekuasaan mendiang Soeharto dan anak anaknya juga ikut terdampak berat. Syukurlah ayahanda mengambil keputusan keluar.

Lalu apa yang dilakukan beliau adalah menyumbangkan ilmunya yakni kemahirannya berbahasa Inggris dengan membuka kursus. Tidak lama kursus berkembang pesat walau ditangani sendirian mulai dari anak anak hingga dewasa. Ayahanda menawarkan kurusus bahasa inggrin yang mengutamakan percakapan yang tidak banyak kursus melakukannya. Dalam beberapa tahun banyak alumni kursus yang mentas dan bekerja di perusahaan atau hotel besar di Jakarta. Ayahanda selalu bilang kalau yang dilakukannya memberikan kebahagiaan batin luar biasa seperti katanya seorang yang dulunya hanya jadi buruh pabrik kemudian berubah nasib bekerja di hotel dengan ketrampilan bahasa inggrisnya.

Ada satu yang mengganjal dalam benak saya, kalau ayahanda terlalu mengutamakan jiwa sosialnya seperti tidak mau menaikkan tarif kursus yang kala itu hanya 15.000 perbulan. Berapa kali saya mendesak untuk dinaikkan toh murid juga banyak, namun ayahanda tetep keukeuh dengan pendiriannya. Hinga kemudian saya membiarkan walau saya tahu ayahanda juga memiliki kebutuhan yang banyak dimana adik adik saya juga masih semuanya sekolah.

Ayahanda menjadi sangat dikenal di kampung dengan banyak mengentaskan warga di kampung mampu merubah hidupnya. kala lebaran menjadi keisitimewaan sendiri ayahanda mendapat kunjungan anak muridnya kerumah. Murid murid ayahanda merasakan kalau diperlakukan laksana keluarga atau sebagai anak anaknya sendiri.

Cukup lama beliau mengabdikan sisa hidupnya untuk kemaslahatan kampung hingga akhirnya ayahanda dipanggil yang maha kuasa di umur yang ke 74 karena kanker usus yang dideritanya. Kehilangan kami kepada yahanda sangat besar begitupula murid muridnya yang dididik selama ini. Kami juga sangat yakin bila amal jariah ayahnda terus mengalir dan kala berziarah ke kuburan ayahanda nampak selau bersih dan terwat meski kami sendiri jarang mengunjunginya. Dari penjaga makam disampaikan bila ada beberapa orang yang datang ke makam dan dengan sukarela merawat kuburannya. Belakangan saya tahu yang merawat makamnya adalah murid murid ayahanda.

Demikian sekelumit kisah tentang ayahanda kami

Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.