Potret kesederhanan Kyai kampung

haul-akbar-pondok-pesantren-alfalah-ploso-kedir-kh-zainuddin-djazuli-di-kampung-coklat-7-1020x683

Banyak yang tidak tahu bahwa para kyai NU di kampung kampung itu hidupnya sangat sederhana. Jangankan Hummer yang harganya milyaran, sekelas avanza pun kadang mereka tidak punya. Begitu pula rumahnya. Beberapa kyai besarĀ  malah rumahnya menyatu dengan penduduk kampung dan malah ada yang masih berdinding papan. Lucunya, jalan depan rumahnya hanya cukup untuk dilalui 1 buah mobil kecil press body.

Jangan pula membayangkan pakaian yang mereka kenakan dalam kesehariannya mirip Dimas kanjeng yang memakai sorban dan jubah besar yang megah. Biasanya para kyai itu pakaianya mirip petani tua kebanyakan. Malah adapula yang tidak mengenakan alas kaki. Harganya ? Taksiran saya tidak lebih dari 100rb untuk sarung dan baju.

Namun, jangan heran jika mereka memiliki santri yang berjumlah ribuan serta alumni ponpesnya yang berjumlah puluhan ribu. Jangan heran pula kalau mengetahui bahwa biaya mondok disana ada yang gratis, ada pula yang dibayar seikhlasnya.

Uniknya, mereka mengajarkan ilmunya serta memenuhi undangan untuk berdakwah tanpa mematok tarif. Bahkan untuk menemui mereka sangatlah mudah. Tidak perlu harus menghubungi tim menejemen untuk membuat janji pertemuan. Mereka dengan mudahnya ditemui 24 jam. Saya sendiri pernah sowan kepada salah satu kyai jam 1 dini hari.

Lalu bagaimana mereka menghidupi dirinya, keluarganya, dan pondoknya ? Inilah misteri rejeki Ilahi. Tentunya mereka mengandalkan tambak, sawah, dan kebunnya yang dikelola secara swadaya oleh para santri.

Tidak perlu mengedarkan proposal, tidak perlu pula meminta sana sini. Bahkan adapula yang setiap mengadakan mujahadah, seluruh jamaah yang hadir dipersilahkan menikmati hidangan sea food khas kampung secara gratis.

Seandainya mereka mau, berpuluh puluh mobil Hummer sampai ferari bisa berbaris rapi didepan rumahnya. Begitu pula untuk sekedar merenovasi rumahnya, ataupun jika hanya diperlukan untuk bergaya sekedar menikmati hidup.

Saya sendiri belum bisa dan mungkin tak akan mampu hidup seperti mereka. Pernah beberapa saat menimba ilmu dari mereka itu adalah sebuah kenikmatan. Menjadikan mereka contoh dan panutan hidup adalah keharusan tersendiri. Karena mereka mencontoh apa yang dilakukan Rosulullah dulu.

Intinya, mereka hidup dengan menepi dari kekuasaan, dan yang sedang berkuasa akan selalu mencari mereka untuk dimintai pertolongan dan nasehat. Mereka pula orang orang yang sudah selesai dengan urusan kenikmatan dunianya, bukan ?

Wallahu a’lam