Berilmu bukan untuk berdebat, mengungguli dan pamer

Beda-Pendapat1

Umar bin Khatab ra berkata :

  • Janganlah kalian berilmu karena 3 hal yaitu jangan berilmu untuk tujuan berdebat, untuk unggul mengungguli  dan pamer .
  • Janganlah  pula meninggalkan ilmu karena 3 perkara yaitu karena malu, benci atau tidak perduli dengan kebodohan.

Berilmu tidak boleh berdebat atau dilakukan perdebatan adalah hanya untuk ilmu Allah. Karena kegemaran berdebat tiada habisnya adalah perbuatan ahli kitab atau Bani Israil. Perdebatan terkait yang haq seperti ayat-ayat Al Quran sebaiknya di hindari sebagaimana Nabi bersabda: Bacalah Al Quran, selama hatimu bersatu, maka apabila berselisih dalam memahaminya, maka bubarlah kamu (yakni jangan sampai meruncing perselisihannya) (Bukhari Muslim).

Lagi pula tiadalah yang dapat disombongkan dari Ilmu Allah yang diberikan manusia hanyalah sedikit dan masuknya ilmu Allah itu adalah karena hidayahNya kepada siapa yang dikehendakinya sesuai kadar iman dan takwanya. sesuai Firman Allah : …….., dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.(Al Isra 85).

Dalam Kitab Maghfirotul Qulub, setiap orang yang menuntut ilmu hendaknya berkesadaran bahwa tidak ada tenaga atau kekuatan yang terkandung dalam diri manusia yang dapat diandalkan, dan tidak ada ilmu yang sakti mandaraguna untuk dapat ditampilkan atau disombongkan dan tidak ada kecanggihan dari apa yang diupayakan manusia kecuali berkat pertolonganNya. PertolonganNya hanya dirahmatkan kepada orang yang selalu berusaha untuk beriman bertakwa sesuai petunjuk wahyuNya yaitu Kitab Suci Al Quranul Karim.

Bagi orang berilmu akan nampaklah ketinggian dan keluasan ilmuNya yang tiada bertara, sebagai  ilmu  yang wajib dicari pada orang yang sadar bahwa dirinya adalah manusia ciptaan Allah. Karena itu menjadi naif bila akhirnya seorang hamba menyombongkan  ilmu yang didapat yang sebenarnya diberikan Allah hanya sedikit itu, dengan cara diperdebatkan, unggul mengungguli apalagi dipamerkan. Tindakan unggul mengungguli, pamer apalagi mencela orang yang bodoh adalah bentuk kedustaan diri terhadap ilmu.

Sementara itu jangan tinggalkan ilmu karena malu. Malu memang sebagai sifatnya Nabi dan orang shaleh, namun malu dalam menuntut ilmu adalah malu yang salah tempat. Begitu pula dengan benci dan diri tiada perduli dengan kebodohan. Ilmu mudah masuk hanya pada orang yang cinta akan ilmu dan akan mustahil bila ditempuh dengan jalan benci. Begitu pula dengan membiarkan kebodohan dalam diri, karena hal itu  adalah bentuk zalim kepada diri sendiri.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s