Kisah wara’ Abdullah bin Mubarak

4-kyoho-grape-vs-king-dela-grape

Abdullah sesungguhnya adalah anak seorang budak berkulit hitam bernama Mubarak. Budak ini, walaupun hitam,  ia adalah seorang yang sangat wara`. Ke-wara’-annya ini akhirnya membuahkan anak yang saleh.

Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun. Suatu hari tuannya datang ke kebun. “Mubarak, petikkan aku anggur yang manis,” perintah tuannya. Mubarak pergi sebentar lalu kembali membawa anggur dan menyerahkannya kepada tuannya.

“Mubarak, anggur ini masam rasanya, tolong carikan yang manis!” kata tuannya setelah memakan anggur itu.

Mubarak segera pergi, tak lama kemudian ia kembali dengan anggur lain. Anggur itu dimakan oleh tuannya.

“Bagaimana kamu ini, aku suruh petik anggur yang manis, tapi lagi-lagi kamu memberiku anggur yang kematangan sehingga masam juga,  padahal kamu telah dua tahun tinggal di kebun ini,” tegur tuannya dengan perasaan kesal.

“Tuanku, aku tidak bisa membedakan anggur yang manis dengan yang masam, karena tugasku hanyalah menjaga kebun. Sejak tinggal di sini aku belum pernah merasakan sebutir anggur pun, bagaimana mungkin aku dapat membedakan yang manis dari yang masam?” jawabnya.

Tuannya tertegun mendengar jawaban Mubarak. Ia seakan-akan memikirkan sesuatu. Kemudian pulanglah ia ke rumah.

Pemilik kebun itu memiliki seorang anak gadis. Banyak pedagang kaya telah melamar anak gadisnya. Sesampainya dirumah, ia berkata kepada istrinya, “Aku telah menemukan calon suami anak kita.” “Siapa dia?” tanya istrinya. “Mubarak, budak yang menjaga kebun.”

“Bagaimana kamu ini?! Masa puteri kita hendak kamu nikahkan dengan seorang budak hitam. Kalau pun kita rela, belum tentu anak kita sudi menikah dengan budak itu.”

“Coba saja sampaikan maksudku ini kepadanya, aku lihat budak itu sangat wara’ dan takut kepada Allah.” Kemudian sang istri pergi menemui anak gadisnya, “Ayahmu akan menikahkanmu dengan seorang budak bernama Mubarak. Aku datang untuk meminta persetujuanmu.”

“Ibu, jika kalian berdua telah setuju, aku pun setuju. Siapakah yang mampu memperhatikanku lebih tulus daripada kedua orang tuaku? Lalu mengapa aku harus tidak setuju?”

Sang ayah yang kaya raya itu kemudian menikahkan anak gadisnya dengan Mubarak. Dari pernikahan ini, lahirlah Abdullah bin Mubarak.

Abdullah bin Al Mubarak, seorang tabi’in yang sangat terkenal dengan sifat kedermawanannya. Meskipun beliau termasuk orang yang cukup mampu, namum beliau sangat mengerti bagaimana cara mempergunakan hartanya di jalan yang diridhai oleh-Nya.

Walau Abdullah bi Al Mubarak mewarisi harta yang banyak dari orang tuanya, kemudian ia mengembangkannya dalam perniagaan sehingga ia menjadi konglomerat yang hebat. Disebutkan bahwa modalnya kala itu mencapai 400 ribu dirham.

Harta kekayaannya dibelanjakan untuk menuntut ilmu, menyantuni ulama, membantu fakir miskin dan berperang dijalan Allah. Ia berniaga bukan untuk memperkaya diri. Walau memiliki harta yang berlimpah dan ilmu yang meruah ia tetap berpenampilan sederhana, namun manusia dapat mengukurnya dari gerak-gerik dan cara berbicaranya yang penuh sopan santun.

(diambil dari http://wwwkisahislami.blogspot.com/2011/04/sikap-wara-menguntungkan.html)

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s