Kisah Sya’ban Ra: Penyesalan saat sakaratul maut

shalat_dzikir-660x330

images Dikisahkan ada sahabat Nabi bernama Sya’ban. Dibanding sahabat, Sya’ban ini tidaklah menonjol cenderung sederhana, kala di mesjid dia suka duduk di pojok mesjid. Dia memilih tempat itu karena tidak ingin dirinya mengganggu dan orang lain terganggu oleh dirinya kala beribadah. Kebiasaan itu sangat dipahami oleh para sahabat dan Nabi Muhammad Saw.

Suatu waktu saat shalat subuh akan dimulai, Nabi Saw tidak menjumpai Sya’ban di dimana dia biasanya duduk. Nabi segera bertanya kepada sahabat mengenai keberadaan sya’ban, namun semua tidak tahu menahu keberadaanya. Nabi Saw meminta jamaah lain menungu sya’ban beberapa waktu.  Karena kuatir  shalat subuh kesiangan,  akhirnya shalat subuh dilaksanakan tanpa kehadiran sya’ban.

Selesai shalat subuh, Nabi Saw bertanya kepada jamaah sekiranya ada yang tahu rumah sya’ban. Nabi Saw kuatir sesuatu terjadi pada diri Sya’ban. Saat itu ada sahabat yang tahu alamat persis rumah Sya’ban dan Nabi Saw meminta dia untuk dapat mengantarkannya ke rumah Sya’ban.

Perjalanan Nabi Saw dan jamaah lainnya ke rumah sya’ban cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki hampir 3 jam. Sesampai dirumah Nabi Saw mengucapkan salam dan keluarlah seorang wanita dan ternyata dia adalah istri Sya’ban.

Nabi Saw berkata: “bolehkah saya menemui sya’ban karena hari ini tidak hadir ber jamaah?. Dengan berlinangan air mata dijawabnya pertanyaan Nabi Saw itu: “Suami saya sudah meninggal tadi pagi”. Nabi Saw berucap : Inna Lillahi wa Inna ilaihi rojiun, Masya Allah penyebab dia tidak shalat subuh karena ajal telah menjemputnya di pagi ini.

Istri Sya’ban lalu menerangkan keadaan suaminya menjelang wafat berkata : “Ya Rasul menjelang wafat suami saya selalu mengulang 3 pertanyaan yang bernada penyesalan dan saya sama sekali tidak tau maksudnya, Dapatkah Nabi Saw menerangkannya?. Nabi Saw berkata : “Apa saja kalimat yang diucapkannya?

Istri Sya’ban kemudian mengulang kalimat  apa yang diucapkan suaminya itu menjelang wafat yaitu :

“Aduh kenapa tidak lebih jauh…..”

Aduh kenapa tidak yang baru ….”

Aduh kenapa tidak semua ………”

Nabi Saw kemudian menjelaskan bahwa orang mukmin menjelang ajal memang akan ditunjukkan segala amal dan ganjaran perbuatannya dan nasib perjalanan dirinya oleh Allah yang tidak diketahui oleh siapapun.

Nabi membacakan surat Qaff ayat 22 :

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari hal ini, maka kami singkapkan hijab yang menutupi matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”

Nabi Saw menjelaskan bahwa melalui pandangan Sya’ban itu di ketahui maksud dari 3 kalimat yang diucapkannya itu sehingga seakan itu menjadi penyesalannya.

Kalimat pertama mengapa tidak lebih jauh  menyebutkan bahwa sya’ban ditunjukkan Allah bahwa jalan kaki yang dilakukannya selama ini telah membuahkan surga. Di situ Sya’ban menyesal mengapa rumahnya tidak lebih jauh dari sekarang ini sehingga dia dapat berjalan kaki lebih jauh untuk mendapatkan surga yang lebih indah.

Dalam kalimat kedua penyesalan kenapa tidak yang lebih baru adalah saat sya’ban dalam perjalanan berangkat subuh di malam dingin dia menjumpai seseorang yang kedinginan.  Sya’ban punya kebiasaan membawa 2 helai pakaian dimana yang baju jelek di kenakan di luar yang didalam adalah yang terbaik. Ini dilakukan agar baju di dalam untuk shalatnya terhindar dari debu selama perjalanan yang dilakukannya menuju mesjid.

Saat menemui orang kedinginan itu timbulah iba dan ingin membantu orang yang kedinginan itu dengan memberikan baju jelek yang dikenakannya.  Dari perbuatan itu, Allah menunjukkan surga yang indah akibat perbuatannya memberikan baju jeleknya kepada orang lain. Di situ dia menyesal kenapa tidak diberikannya yang baru sehingga ganjaran surga bagi dirinya akan lebih baik.

Dalam kalimat ketiga muncul saat sya’ban sarapan roti, lalu datanglah pengemis menjumpainya. Pengemis itu bilang bahwa sudah 3 hari tidak makan dan ibalah Sya’ban dan segera membagi dua rotinya itu kepada pengemis. Dari perbuatan itu Allah memperlihatkan surga yang diperolehnya karena sudah berbagi makanan dengan pengemis itu. Disitulah Sya’ban menyesal kenapa roti tidak diberikan semuanya, tentu surganya akan lebih indah.

Semua sahabat dan istri akhirnya paham akan maksud ucapan kalimat penyesalan Sya’ban menjelang sakaratul mautnya itu dan pelajaran yang dapat ditarik bahwa dalam berbuat baik haruslah optimal dan total jangan setengah setengah.

Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s