Orang kafir yang lebih baik dari orang Islam

munafik-_20140922_115216

Jangan sewot melihat tulisan itu yang seolah-olah membela orang kafir. Cak Nun menyampaikan bahwa orang yang selalu berbuat baik bagi sesama walau bukan dari golonganmu/ kafir masih lebih baik dari pada orang yang berasal dari golonganmu (islam) yang selalu bertutur kata dan menyeru kebajikan namun hanya sebagai dalih untuk memaksakan kepentingannya kepada sesama.

Di mata Allah, orang kafir yang baik tetaplah tercatat berkontribusi sebagai suatu kebaikan, terutama bagi sesama.  Sementara itu kepada orang Islam yang munafik, sebenarnya tidaklah jauh beda dengan kafir malah golongan ini lebih ditakuti, lebih-lebih bila mengaku Islam, karena dapat membahayakan bagi sesama.

Kalifah Umar : Aku tidak mengkhawatirkan dua orang berikut : Orang yang jelas keimanannya (mukmin) dan orang yang jelas kekafirannya (Kafir). Tetapi aku sangat mengkhawatirkan orang munafik yang bersembunyi di balik iman, padahal dia kafir.

Dari golongan manusia didunia ini, kenyataannya orang kafir banyak mampu menampilkan kebaikan yang nota bene adalah sesuai dengan ajaran Islam sementara banyak orang Islam yang banyak meninggalkan ajarannya berbuat sesuatu yang tidak mencerminkan ajarannya.

Seorang Filosof Perancis  bernama Renan pernah mengkritik Syeik Muhammad Abduh yang menyampaikan akan kehebatan Islam dengan mengatakan bahwa : Saya tahu persis kehebatan nilai-nilai islam dalam Al Quran, tetapi tolong tunjukkan satu komunitas muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam. Shaikgh Muhammad Abduh itupun terdiam

1 abad kemudian tantangan Renan ini dijawab melalui suatu survey menarik yang dilakukan George Washington University. Mereka menyusun lebih dari 100 nilai-nilai luhur Islam seperti kejujuran (shiddiq), amanah, berbuat adil, menjaga kebersihan, menepati waktu, empati, toleransi dan sederet ajaran Al Quran yang merupakan cerminan akhlaq Rasulullah Saw.

Berbekal sederet indikator ini yang mereka sebut Islamicity index, mereka datang ke lebih 200 negara untuk mengukur seberapa islami negara-negara tersebut. Mereka mulai dengan memahami Apa itu Islam? Bagaimana  sebuah negara atau seseorang digolongkan Islami ?

Indikator survey kemudian diperoleh dengan merujuk ayat atau hadist yang menjelaskan bagaimana seorang muslim berbuat terhadap sesamanya seperti :

  • Seorang muslim adalah orang yang disekitarnya selamat dari tangan dan lisannya
  • Keutamaan seorang muslim adalah meninggalkan perbuatan yang tiada manfaat
  • Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka dia akan menghormati tetangga dan tamunya.
  • Selalu berbicara baik atau diam. dll

Bila kita koleksi semua hadist itu maka akan didapat nilai-nilai Islam yang pas untuk dijadikan indikator bukan definisi

Hasilnya ?

Selandia baru dinobatkan sebagai negara paling Islami. Lantas bagimana Indonesia? ternyata harus puas di urutan 140. Nasibnya tidak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang kebanyakan bertengger di urutan 100-200.

Dengan hasil survey itu tidak heran bila Shaikh Muhammad Abduh ketika berkunjung ke Perancis  akhirnya berkomentar : “Saya tidak melihat muslim disini, tetapi merasakan nilai-nilai Islam diterapkan. sebaliknya di Mesir saya melihat begitu banyak Muslim, tetapi hampir tidak melihat Islam.

Pengalaman serupa juga dirasakan Profesor Afif Muhammad ketika berkunjung ke Kanada yang merupakan negara paling Islami ke 5. Beliau heran melihat penduduk disana tidak pernah mengunsi pintu rumah. Saat salah seorang penduduk ditanya tentang itu, mereka balik bertanya “Mengapa harus dikunci?

Sungguh ironis bila hal ini dibandingkan dengan keadaan di negara Islam, seperti sandal jepit yang bisa hilang di rumah Allah. Padahal jelas-jelas kata iman sama akar katanya dengan aman. Artinya jika semua penduduk beriman seharusnya bisa memberi rasa aman.

Dalam suatu hadist riwayat Ahmad disebutkan bahwa orang-orang kafir di mata Allah sebaik apapun amal baiknya akan menjadi  sia sia. Benar bila dikatakan orang kafir akan mendapatkan karunia  Allah berupa kebaikan-kebaikan kepada mereka kala didunia, namun kebaikan-kebaikan itu tidaklah mampu menebus atau mencukupi untuk dirinya lepas dari azab neraka kala diakhirat.

Kebanyakan Orang Islam akan membela diri dengan mengatakan orang kafir  sebagaimana ayat dibawah ini :

Firman Allah :Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.(Annur :39)

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (Al Furqan:23)

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (TQS. al-Kahfi: 104).

Namun lihat dulu sebenarnya akan lebih parah bila seseorang itu digolongkan Islam tetapi melalaikan ajaran dan nilai-nilai Islam yang digolongkan kepada orang munafik

Firman Allah : Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.(Annisa:145)

Begitulah bahwa Allah akan meletakkan sesuatu kepada tempat semestinya, dan memberi seseorang atas apa yang pantas diberikan kepadanya.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s