Islam ditakdirkan sebagai umat tengah-tengah

moderat

Tradisi di Islam yang mengutamakan jalan tengah adalah didasarkan hadis nabi saw yang menyatakan bahwa sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan. Tuntunan ini mampu memberikan solusi tidak saja bagi diri namun ajib juga dipakai untuk mengatasi perkara  yang lebih besar untuk negara hingga dunia.

Negara sekuler yang jelas sekali memisahkan negara dan agama atau negara komunis yang anti agama akhirnya satu per satu juga mengakui secara tidak langsung adanya kontribusi agama dalam membantu menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi pada negara penganut paham itu.

Untuk membuktikan hadis ini merasuk dalam kehidupan politik negara dapat dilihat pada saat Golkar pada masa orde baru, memanfaatkan posisinya berada ditengah (no partai 2) yang diapit PPP (no partai 1)  dan PDI (no partai 3), untuk menarik simpati rakyat dan berhasil. Dan keberhasilan poros tengah pada awal reformasi untuk menggulingkan partai yang menang mayoritas melalui aliansi pada partai politik.

Makna seimbang

Hadis ini banyak memiliki makna, pertama adalah keseimbangan. Dari keseimbangan ini lahirlah Islam sebagai agama yang dinamis dan senantiasa berproses. Ketetapan Allah kemudian dipadu dengan keleluasaan akal dan pikiran sebagai anugerah Tuhan keapada manusia  dalam mengelola dunia. Sehingga muncullah kebudayaan dan peradaban dan sistem serta tata nilai dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Dan ini terus berkembang hingga terbentuk  demokrasi sebagai wujud kompromistis dari berbagai kepentingan baik yang haluan kiri-kanan, ekstrim atas moderat akhirnya terpilih sistem yang ideal dan seimbang sehingga  diterima semua pihak.

Makna tidak berlebih-lebihan

Kedua, Hadis ini juga memiliki makna agar tidak berlebih-lebihan, artinya segala yang berlebihan adalah langkah setan. Perjalanan komunis terhenti karena terlalu melebihkan paham sosialis sehingga gerakan ekonomi menjadi lamban. Perjalanan negara Kapitalis juga akhirnya diketahui menimbulkan masalah dengan sikap mendewakan individualismenya. Karena itu di dunia muncul paham The Thirdway yang memadukan keduanya kedalam negara yang disebut welfare state (negara berkesejahteraan).

Pudarnya komunis dan kapitalis tidak lantas berhenti, apa kemudian dunia aman?, saat ini muncul dikotomi lain atau perang antar kutub  yaitu dengan  kepememimpinan suatu negara besar sebagai satu kutub dan satu kutub lainnya yaitu hal ekstrim yang sulit dideteksi namun nyata yaitu kejahatan lintas negara seperti teroris, narkoba, perdagangan manusia, money laundering. Negara besar ini akhirnya tersudut menjadi sebuah kutub dan mampu mengajak negara lainnya  memerangi kutub yang satunya.

Trilyunan dolar diglontorkan untuk dapat menumpas kutub yang satunya. Dana militer negara besar berasal dari anggaran belanjanya telah digunakan salah satunya untuk memerangi kutub satu ini.  Tindakan politik  dengan nama pre emptive strike yaitu suatu tindakan  untuk menumpas tunas dari suatu gerakan yang  mengancam sangat ditakuti saat ini. Tindakan ini bersifat tegas dan unnegotiable (meniadakan aspek perundingan) dengan pihak-pihak pada kutub lainnya itu.

Cara ini menempatkan negara besar kemudian berjiwa “kerdil”, dalam artian menjadi ketakutan yang  berlebih-lebihan dengan belanja negara yang berlebihan pula. Mindset bahwa negaranya selalu dilingkupi musuh yang akan muncul baik dari dalam dan dari luar mampu menggiring sebagian rakyatnya untuk merestui tindakan negaranya memerangi kutub yang satunya ini.

Makna tidak bermegah-megahan

Ketiga, Hadis ini juga memiliki arti agar tidak bermegah-megahan. Saya tidak menyebutkan suatu negara di Arab yang begitu gigih berlomba bermegah-megahan dan kini mulai goyah keuangannya. Negara akhirnya banyak dinikmati oleh pendatang dan kontraktor asing yang mendapat pekerjaan untuk menuruti ambisi negara itu untuk bermegah ria. Bermegah-megahan ini tidak memberikan kontribusi berarti bagi negaranya dalam artian menikmati hasilnya dan negara arab sekitarnya dalam membantu penyelesaian konflik berkepanjangan Arab Israel. Negara ini seakan asyik sendiri dengan program membangunnya yang  tiada henti.

Terkait belanja yang berlebihan itu dan bernegah-megahan dari suatu negara perhatikanlah beberapa ayat-ayat Allah yang intinya Allah tidak menyukai tindakan yang berlebihan (1)  dan bermegah-megahan.  (2) 

Umat tengah-tengah kaitannya dengan falsafah bangsa Indonesia

Melihat arti hadis itu beruntunglah kemudian bagi Indonesia memiliki filosofi Pancasila yang memiliki makna seimbang dalam aspek individual dan sosial. Dalam pancasila, sila ke 2,  negara menghargai dan melindungi individual sebagai hak kemanusian yang hakiki. Pada sila ke 5, negara menghargai hak komunal atau sosial.

Kedua sila ini diatur melalui tatanan agar deliberasi sila ke2 dan sila ke 5 dilakukan melalui tatanan demokrasi dalam sila ke 4 dengan tujuan pada persatuan sesuai sila ke 3. Dan kesemua itu akan semakin solid dan mendapat ridhoNya bila dapat dibingkai dalam sila ke 1 yang berasaskan Ketuhanan. Lahirlah kemudian Indonesia dengan wajah yang demokratis dan berusaha menghadapi kejahatan dengan cara baik (bukan berarti lembut namun dapat juga keras) dengan tidak melaknatinya, menepiskan anggapan wajah umat Islam yang stereotipenya selalu keras dan maunya menang sendiri.

Cara Indonesia melalui masa-masa sulit dalam kehidupan berbangsa memiliki cara dan karakteristik sendiri. Cara tsb tampak dalam Indonesia mengedepankan demokrasi melalui musyawarah dalam menyelesaikan segala persoalan bangsa dan desakan agar Indonesia berlaku hemat tidak berlebih-lebihan tercermin saat menghadapi krisis ekonomi yang berat. Hal demikian  ternyata sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Saw yang secara jelas diriwayatkan Imam Thabrani ra.(3)

Cara Indonesia memerangi teroris dan kejahatan lainnya juga diakui efektif, Indonesia menerapkan aspek sosial budaya dengan berusaha memahami sebab munculnya kejahatan itu melalui tindakan preventif,  jadi bukan melulu reaksi atas akibat dari suatu kejahatan itu muncul. Cara ini kemudian diakui dunia yang sebenarnya muncul dari tuntunan hadis untuk mengutamakan jalan tengah dalam segala sesuatunya.

Begitulah panduan yang diberikan Nabi saw bahwa  sebaik-baik sikap adalah jalan tengah. Ini sesuai dengan takdir dari umat Islam yang disebutkan dalam Alquran sendiri sebagai  umat tengah-tengah yaitu dari umat Musa As dengan umatnya Bani Israil yang materialistis, Umat Nabi Daud As dengan umatnya yang sangat pandai bersyair dan Umat Isa As, yang sangat mengutamakan aspek rohani. Dari itu jalan tengah yang menjadikan Umat Islam  sebagai  saksi dari perkembangan dan perubahan peradaban dunia. Karena itu, Umat Islam tidak akan memihak salah satu kutub yang berlebihan apalagi ekstrim. (4)

Wallahu ‘alam

  1. Firman Allah : Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.(Al Furqan: 67).
  2. Firman Allah: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), (Attakatsur : 1-3)
  3. Sabda Nabi : Tidak akan kecewa orang yang mau mengerjakan shalat Istikharah (kala dihadapkan pilihan sulit) dan tidak akan menyesal orang yang suka bermusyawarah serta tidak akan melarat orang yang suka berhemat dan lakunya sederhana (HR Thabrani).
  4. Diambil dalam ceramah KH M. Quraishi Shihab dalam menerangkan mengenai Maulud Nabi Saw dan kondisi Umatnya di Indosiar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s