Kisah Indahnya berbagi 3: Teguran dari seorang anak

jual-bawang-sambil-mengaji-nenek-ini-bikin-haru-netizen-2

Sesudah jumatan aku masih duduk diteras mesjid salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.

Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue tradisional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, karena kasihan akhirnya aku beli satu plastik.

Si nenek  penjual kue itu  terlihat letih. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat seorang anak laki-laki dari kompleks itu mendatangi si nenek. Anak itu dalam perkiraanku kelas satu atau dua.

Karena tidak jauh dariku, dialog antara anak itu dengan si nenek jelas terdengar ditelingaku. ” Berapa harganya nek ?’ “Satu plastik kue lima ribu rupiah nak, jawab si nenek.

Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata:”Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat nenek aja kuenya, biar bisa dijual lagi”. Mendengar itu Si nenek jelas sekali terlihat berbinar-binar matanya.

“Ya Allah terima kasih banyak nak. Alhamdulilah ya Allah engkau kabulkan doaku untuk dapat membeli obat buat cucuku yang sakit”. Si nenek langsung jalan.

Seketika itu aku panggil anak itu. “Siapa namamu? kelas berapa? . nama saya Ahmad, kelas 2, pak jawabnya sangat sopan. Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu rupiah ya ? tanyaku menyelidik.

” Oh tidak pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari, tapi saya tidak pernah jajan , karena saya juga sudah bawa bekal dari rumah.

“Jadi yang kamu kasih ke nenek itu tabungan uang jajan kamu sejak hari senen? tanyaku terkagum-kagum.

Betul pak jadi setiap jumat saya bisa sedekah lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah bahwa  ada seorang ibu yang diampuni dan diselamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah hanya dengan sepotong roti.. Anak SD itu berbicara dengan fasihnya.

Aku pegang bahu anak itu: Sejak kapan ibumu meninggal?. Ketika saya masih TK pak”.  Tak terasa air mataku menetes. “Hatimu jauh lebih mulia dari aku Ahmad. Ini aku ganti uang kamu yang lima puluh ribu rupiah tadi ya…Kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.

Tapi dengan sopan Ahmad menolaknya dan berkata: Terima kasih banyak pak.. Tapi untuk keperluan bapak saja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan. Tapi bapak punya keluarga… Saya pamit balik kekelas ya pak”. Ahmad lalu menyalami tanganku dan menciumnya.

“Allah menjagamu nak”. Jawabku dengan lirih. Akupun beranjak pergi, tidak jauh dari situ saya lihat lagi si nenek penjual kue berdiri didepan apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.. Aku bertanya kepada kasir: ” berapa harga obatnya. Kasir menjawab : Empat puluh ribu rupiah.”. Aku serahkan uang lima puluh ribu yang ditolak anak tadi langsung ke kasir:” Ini saya yang bayar…kembaliannya tolong berikan kepada nenek ini.”

Belum sempet nenek itu berterima kasih, aku bergegas pergi. Dalam hati aku berdoa semoga Allah menerima sedekahku dan mengampuni orang tuaku yang sudah mendahuluiku kembali kepada Allah.

Sahabat ada kalanya teguran untuk berbuat baik datang dari seorang anak kecil seperti Ahmad itu.

Wallahu a’lam

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s